-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perang Barbar di Lembah Sunyi

Jumat, 19 Juni 2020 | 09.51 WIB Last Updated 2020-06-19T02:51:01Z


Pertempuran hebat antara serdadu China dan militer India yang terjadi di Lembah Galwan, Ladakh--wilayah pegunungan yang sangat dingin dan  masih disengketakan kedua negara--mengakibatkan sedikitnya 20 tentara India tewas. Sedang tentara China ada yang menyebut 40 tewas. Tapi China hingga Jumat 19 Juni 2020 hari ini masih bungkam.


PERTEMPURAN ini memicu kemarahan masyarakat global karena dilakukan dengan cara barbar. Hal itu diketahui setelah beredar senjata barbar yang diduga dipakai bertempur. Perang India vs China ini aneh sebab tanpa letusan senjata.

Muasalnya adalah batang besi yang dipenuhi dengan paku tajam. Gambar besi berpaku tajam itu beredar di media sosial dan disebut sebagai  senjata yang disebut telah digunakan dalam bentrokan tentara China dan India di perbatasan yang masih dalam status sengketa, pada Senin (15/06/2020) lalu.

China belum mengakui adanya korban jiwa dari pihaknya, namun laporan yang tak dapat dikonfirmasi oleh media di India menyebutkan sedikitnya 40 tentara China tewas dalam pertempuran tersebut.

Tentara dari dua kubu dilaporkan bertarung dengan tongkat besi dan pentungan, tanpa senjata api. Masing-masing pihak saling menyalahkan terkait pemicu bentrokan.

Seperti dikutip dari BBC Indonesia, foto besi penuh dengan paku tajam itu diperoleh wartawan BBC dari seorang perwira senior militer India di perbatasan India-China. Perwira itu mengatakan senjata tersebut digunakan oleh tentara China.

Jadi, apa yang memicu aksi kekerasan ini dan kenapa para tentara tidak berperang dengan senjata api?

Apa yang terjadi?
 

Media melaporkan bentrokan yang terjadi Senin (15/06/2020) kemarin di atas gunung dengan ketinggian lebih dari 4.200 meter, di mana suhu udara mencapai di bawah nol derajat celsius.

Sejumlah tentara yang bertarung diduga telah jatuh ke sungai yang mengalir deras di bawahnya. Namun, belum jelas berapa banyak tentara yang terlibat dalam pertarungan di atas gunung itu. 


Seorang pejabat senior militer India mengatakan kepada BBC, saat itu terdapat 55 tentara India melawan 300 tentara China, tapi jumlahnya masih belum bisa diverifikasi.

"Mereka menghantam prajurit kami di bagian kepala dengan pentungan besi yang dilibat kawat berduri. Tentara kami bertarung dengan tangan kosong," kata pejabat yang enggan disebutkan namanya, dan menggambarkan tentara China seperti "Pasukan Kematian".

Pada Selasa malam, pihak India mengkonfirmasi bahwa 17 orang yang tewas "mengalami luka serius di lokasi yang sulit dijangkau, dan diperparah dengan suhu dingin di daratan tinggi"

Mereka diduga meninggal karena luka, dan tak mampu bertahan dengan suhu dingin.

Laporan awal mengatakan, bahwa tentara India telah hilang, tapi para pejabat mengatakan semua yang terlibat dalam bentrokan telah dipertanggungjawabkan.

Siapa yang memulai?

Juru bicara menteri luar negeri China, Zhao Lijian mengatakan India telah memasuki perbatasan dua kali, "memprovokasi dan menyerang anggota tentara China, mengakibatkan bentrok yang lebih serius antara pasukan penjaga perbatasan dari kedua belah pihak," demikian dilaporkan kantor berita AFP.

Senjata barbar itu.

Namun, India mengatakan tentara China mencoba untuk mendirikan sebuah bangunan di wilayah perbatasan India yang diakui secara de facto oleh Garis Kendali Aktual (LAC).

Dalam sebuah pernyataan melalui perbincangan telepon, antara menteri luar negeri masing-masing negara, India menuduh tentara China melakukan "tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya dan secara langsung bertanggung jawab atas bentrokan dan jatuhnya korban" serta mendesak China untuk "mengambil langkah perbaikan"

Sementara itu, Menlu China, Wang Yi, mengatakan: "China kembali mengajukan protes keras kepada India dan meminta India melakukan investigasi secara menyeluruh... dan menghentikan segala tindakan provokasi untuk memastikan kejadian ini tidak terulang lagi."

China pada Rabu (17/06/2020) mengklaim "kedaulatan atas wilayah Lembah Galwan" - sebuah klaim yang dibantah pihak India sebagai "berlebihan dan tak dapat dipertahankan"

Kenapa tanpa senjata api?

Sejak 1950-an, China menolak mengakui perbatasan kedua negara yang ditentukan pada masa penjajahan Inggris di India. Pada 1962, perseteruan ini memicu perang singkat yang membuat India harus menanggung kekalahan memalukan.

Penggunaan senjata api di Lembah Galwan terakhir terjadi pada 1975, ketika empat serdadu India dibunuh di kawasan perbatasan yang terpencil di Negara Bagian Arunachal Pradesh.

Peristiwa itu diceritakan dalam versi beragam oleh sejumlah mantan diplomat. Ada yang menyebutnya sebagai serangan tiba-tiba, ada pula yang mengatakan itu adalah kecelakaan.

Namun, sejak itu, tidak ada peluru yang ditembakkan.

Pada 1996, kedua kubu membuat perjanjian bilateral yang menyebutkan "tiada pihak yang boleh melepaskan tembakan, menggelar operasi peledakan, atau berburu menggunakan senjata atau peledak dalam radius dua kilometer di Garis Kendali Aktual (LAC)".

Karena senjata api tidak boleh digunakan, cara lain pun dilakukan ketika kedua kubu bertikai. Ya cara itu adalah bertempur ala orang-orang barbar.


Danau Pangong saksi sejarah sengketa.


Pada Mei lalu, sejumlah serdadu India dan China baku hantam di Danau Pangong, yang juga terletak di Ladakh, dan di Negara Bagian Sikkim.

India mengatakan China telah menduduki 38.000 kilometer persegi wilayah ini dan menuduh China memicu ketegangan dengan mengirimkan ribuan pasukan ke wilayah Lembah Galwan di Ladaksh.

China juga melaporkan bahwa India juga membangun jalan dan infrastruktur di wilayah itu.

"Kawasan Galwan sekarang telah menjadi titik api, karena ini di mana LAC berdekatan dengan jalan baru yang dibangun India di sepanjang area paling terpencil dan rentan di LAC di Ladakh," kata Ajai Shukla, ahli militer India dengan pangkat kolonel kepada BBC, pada Mei lalu.

Reaksi 


Gambar senjata besi yang telah dimodifikasi telah menyebar luas melalui media sosial Twitter di India, yang memicu kemarahan banyak pengguna media sosial.

Baik pemerintah China maupun India tidak berkomentar mengenai hal ini.

Shukla, orang yang pertama kali menunggah gambar ini di Twitter, menggambarkan pengguna senjata ini sebagai "kaum barbar".

Sebagian publik di kedua negara masing-masing melakukan aksi protes menyusul bentrokan di wilayah sengketa Himalaya, sementara para pejabat telah berbicara dengan sangat hati-hati, dan bergerak ke arah penyelesaian secara diplomasi. (BBC/AFP)


×
Berita Terbaru Update