Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Prokontra Soal Pencopotannya, Din Tak Ambil Pusing

Sabtu, 27 Juni 2020 | 19.56 WIB Last Updated 2020-06-27T12:56:16Z

JAKARTA (DutaJatim.com) - Masyarakat menanggapi pro-kontra desakan agar Din Syamsuddin mundur dari Majelis Wali Amanat ITB karena sejumlah pernyataannya sering mengkritik Pemerintah dan sikapnya cenderung radikal. Polemik juga terjadi di dunia maya. Pada twitter, Musni Umar dengan akun@musniumar misalnya membela Din. "ITB institusi yang hebat. Sejatinya para alumni ITB sokong Din Syamsuddin yang suarakan kebenaran dan keadilan. Malah diusulkan untuk dicopot. 

Memangnya Din melamar jadi wali amanat ITB. Saya  yakin tidak. Mayoritas alumni  ITB pejuang pasti tidak sependapat pembuat petisi," kata Musni Umar seperti dilihat pada Sabtu 27 Juni 2020 malam ini.


Estananto lewat akun @estananto juga menilai senada. "Ini preseden buruk ketika seorang anggota MWA ITB bisa mundur gara-gara segelintir orang," katanya sambil memposting berita dengan judul "Ketua MWA ITB Sebut Din Syamsuddin Sudah Mengundurkan Diri".


DEMARKASIimajiner dengan akun @FaqihSyahrir memposting komentar pakar ekonomi yang juga mantan mahasiswa ITB, Rizal Ramli, yang mengkritik ITB. Dia memuji Rizal. "Bagus juga kampus peduli dengan persoalan politik. Tapi YG MINTA Din Syamsuddin turun itu CENGENG dan KOLOKAN dan MENJILAT!"@Sinergi_IAITB @mwawm_itb.

Dalam postingannya Dr Rizal Ramli mengatakan, "Sebagai ex Mahasiswa ITB, saya malu Kampus Ganesa yang hebat, biasa berfikir luas, kok cara berfikirnya jadi super-cupet, dangkal dan hanya pintar menjilat kekuasaan, bukan kritis, analitik dan innovatif. Pantesan sekarang ranking ITB hanya 370-an di dunia."

Lain halnya June@June_dya77. Dia memuji desakan pencopotan Din. "Melawan para penggiat atau simpatisan khilafah itu butuh kekompakkan. Salut pada Alumni ITB yang meminta Din S. dicopot dari majelis wali," katanya.

Lalu bagaimana tanggapan Din Samsyudin? 

Mantan Ketua Umum PP Muhammdiyah ini mengaku tak ambil pusing dengan sejumlah tuduhan dari alumni almamaternya yang mengatasnamakan diri sebagai kelompok Gerakan Anti Radikalisme - Alumni Institut Teknologi Bandung. 

Kelompok ini mendesak Din dicopot dari Majelis Wali Amanat ITB karena sejumlah pernyataan, sikap, serta sepak terjang Din Syamsuddin selama satu tahun terakhir. 

Salah satunya, Din dianggap memiliki tendensi untuk mudah melontarkan pernyataan agitatif kepada masyarakat yang berpotensi menimbulkan konflik; cenderung berkarakter radikal; dan ditengarai memiliki antipati tertentu terhadap figur Presiden Jokowi.

"Saya hanya bisa tertawa, karena cara yang ditempuh oleh kelompok yang menuduh saya radikal adalah cara radikal itu sendiri. Jadi ibarat seseorang yang menelunjukan jari, satu ke depan tapi tiga jari mengarah kepada diri mereka sendiri, hehehe," ujar Din seperti dikutip dari Tempo, Sabtu, 27 Juni 2020.

Din menyebut, dia tidak akan gentar dengan berbagai desakan. "Tidak betul saya tunduk pada desakan apalagi yang tidak memiliki hak dan kewenangan. Kesimpulan itu manipulatif. Itu saja. Maaf ya, saya sedang pimpin rapat," ujar Din saat dihubungi terpisah.

Menurut Din, lebih banyak alumni ITB yang mendukungnya untuk mempertahankan sikap berlaku kritis terhadap pemerintah. "Tapi saya sudah larang kelompok pendukung yang jauh lebih banyak untuk tidak usah menanggapi kecuali secara akademik," ujar tokoh Muhammadiyah ini. (hud/tmp)
×
Berita Terbaru Update