-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tiga Strategi Tingkatkan Daya Saing Global Industri Halal

Sabtu, 20 Juni 2020 | 07.59 WIB Last Updated 2020-06-20T00:59:03Z


JAKARTA (DutaJatim.com)  - Industri halal di Indonesia perlu terus meningkatkan daya saing. Tujuanya agar mampu berkompetisi di pasar internasional. Ada Tiga Strategi Tingkatkan Daya Saing Global Industri Halal.

Direktur Bidang Pengembangan Ekonomi Syariah & Industri Halal KNEKS, Afdhal Aliasar, mengatakan, tiga hal yang perlu dilakukan pelaku usaha dan industri halal Indonesia untuk meningkatkan daya saing itu adalah:

Pertama, meningkatkan kualitas yang dihasilkannya agar memenuhi standar pasar internasional. 

Kedua, memenuhi kapasitas produksi, sehingga skill dalam production harus memadai.

 “Ketiga, harus ada continuity, yaitu produknya selalu diproduksi sehingga selalu ready stock secara berkesinambungan," terang Afdhal saat menjadi narasumber dalam acara Academic-Business-Government (ABG) Gathering on Halal, di Jakarta, Kamis (18/06/2020). 

Kegiatan yang digelar secara jaringan (daring) ini mengangkat tema "Industri Halal, UMKM dan Daya Saing Ekonomi Nasional". 

Menurut Afdhal, industri halal di Indonesia telah mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Bahkan, tahun 2019 menjadi tahun achievement di sektor ekonomi syariah dan industri halal Indonesia. 

“Pada Mei 2019 lalu, Bapak Presiden telah melaunching Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia, di mana di dalamnya terdapat penguatan Halal Value Chain," kata Afdhal.

Pemerintah juga sangat serius mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan memperbaiki dan mengembangkan sektor ekonominya.

Kualitas dan Kontinuitas

Hal senada diungkapkan Dirjen IKM Kementerian Perindustrian, Sri Yunianti. Menurutnya, untuk menembus pasar ekspor, pelaku industri perlu memenuhi prasyarat mutu dan juga kontinuitas ketersediaan produk. 

"Untuk ekspor yang harus kita berdayakan bersama agar IKM bisa berdaya saing ekspor, selain prasyarat mutu juga prasyarat kontinuitas produksinya," kata Sri.

Saat ini pangsa pasar produk IKM memang masih didominasi pasar lokal dalam negeri. Dari 4,4 juta IKM di Indonesia, lanjut Sri, sebagian besarnya adalah industri kecil (98%) mayoritas industri rumah tangga. Dan dari produksi IKM, 98% pasarnya adalah pasar dalam negeri, atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan lokal. 

Sri menjelaskan bahwa salah satu kendala industri halal yang dihadapi adalah bahan baku yang masih mengandalkan bahan impor. 


"Ingredient produk halal masih kebanyakan impor, padahal kita punya potensi besar untuk mensubsitusi bahan-bahan baku impor tersebut. Karena itu, Kemenperin berupaya meningkatkan substitusi impor ini untuk dipenuhi di dalam negeri, dengan pemberdayaan semua sektor dari hulu ke hilir," jelas Sri. (kmg)
×
Berita Terbaru Update