-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

290 Santri SMP BP Amanatul Ummah Masuk Asrama, Para Santri Tegar Orang Tuanya Justru Menangis

Tuesday, July 21, 2020 | 17:13 WIB Last Updated 2020-07-21T10:13:42Z

Sebelum masuk asrama santri diperiksa ketat.


MOJOKERTO (DutaJatim.com) - Secara bergelombang santri Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah Desa Kembangbelor Kec. Pacet Kab. Mojokerto terus memasuki asrama pondok. Ribuan santri yang sudah memasuki pondok ini masih akan bertambah lagi sebab sampai Agustus 2020 mendatang sejumlah sekolah di lingkungan Amanatul Ummah masih membuka pendaftaran siswa baru.

Salah satunya siswa siswi SMP Berbasis Pesantren (SMP BP) Amanatul Ummah. Hingga kini SMP BP  masih membuka pendaftaran siswa baru. 

Sementara sebanyak 290 siswa yang sudah resmi diterima Senin 20 Juli 2020 kemarin mulai memasuki asrama.

Mereka melakukan daftar ulang dengan melalui proses protokol kesehatan yang ketat. Setelah itu juga melalui  protokol Islam. Dua kegiatan itu dipusatkan di Kampus Institut Pesantren KH Abdul Chalim di Pacet.

Protokol kesehatan sudah diterapkan saat memasuki kampus. Pintu gerbang kampus dijaga sejumlah panitia yang memeriksa calon siswa dan dua orang pengantarnya. Selanjutnya melewati bilik disinfektan untuk sterilisasi dan cuci tangan memakai sabun.

Masuk area kampus siswa diantar salah satu orang tuanya menuju meja pemeriksaan administrasi, termasuk menunjukkan surat-surat hasil rapid test, pemeriksaan darah menyeluruh, torax, atau hasil swab. Rapid dan swab test bisa salah satunya.

Sementara satu orang pengantar lain membawa barang milik santri ke tempat pencatatan untuk dikumpulkan dan diberi label nama siswa dan kamar asramanya. Setelah itu semua siswa dikumpulkan di sejumlah ruangan transit yang lokasinya di Gedung Pasca-Sarjana IKHAC. Para calon santri diajak berkenalan dengan siswa lain dengan tetap menjaga jarak dan bermasker.

Selanjutnya mereka mandi serta sholat di lokasi tersebut.

Sementara orang tuanya dikumpulkan di lantai 3 gedung Rektorat untuk mendapat wejangan dari pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MA. Setelah itu para siswa diangkut menggunakan sejumlah minibus milik pondok menuju asrama yang jaraknya sekitar 1 km dari kampus IKHAC.

Suasana haru menyertai perpisahan para orang tua/walimurid dengan anak mereka yang memasuki kendaraan. Para orang tua itu ada yang berasal dari Sulawesi, Kalimantan, atau kota-kota di Jawa seperti Banyuwagi, Surabaya, Sidoarjo, Bojonegoro, sampai Jakarta.

Doa Agar Kerasan di Pondok

Mereka ada yang sudah berada di Pacet sejak empat hari sebelumnya. Mereka menginap rumah penduduk di sekitar kampus IKHAC. Salah seorang pria orang tua santri asal Sulawesi Selatan menangis saat hendak berpisah dengan anaknya. Sementara si anak sendiri tampak biasa-biasa saja alias lebih tegar ketimbang ayahnya. 


"Saya khawatir sebab anak ini tidak pernah pisah dengan kami orang tuanya," kata walisantri tersebut. "Tapi saya heran juga anak saya kok sepertinya sudah siap. Tidak sedih. Sementara orang tuanya malah menangis," kata ibu dari santriwati tersebut.

Kiai Asep --panggilan KH Asep Saifuddin Chalim--saat pertemuan dengan walisantri memang mengajak mereka beristighotsah. Berdoa bersama. Berdzikir. Dan mereka pun khusyuk berdoa dan berdzikir.

Inilah momen setelah menerapkan protokol kesehatan. Para santri dan walisantri diajak menerapkan protokol Islam. Selain imunitas dengan jaga kesehatan, juga wajib menerapkan imanitas. Menjaga ketakwaan-- atau sehat spiritualitas-- kepada Allah SWT.

"Salah satu doa itu adalah meminta kepada Allah SWT agar para santri kerasan, betah, lancar dan giat belajar menimba ilmu di pondok pesantren ini," kata Kiai Asep kepada para walisantri. (Gatot Susanto)
×
Berita Terbaru Update