-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Lautan Ihram Menghilang, Pengusaha Haji Pun Menangis

Kamis, 30 Juli 2020 | 01.00 WIB Last Updated 2020-07-29T18:00:02Z
JAMAAH haji melakukan ritual haji di  sekitar Kakbah, Masjidil Haram, Makkah. (Getty Images)


MAKKAH (DutaJatim.com) - Musim haji adalah musim panen bagi pengusaha di Arab Saudi dan juga di Indonesia. Namun hal itu tidak terjadi pada musim haji 2020 ini.

Pemerintah Arab Saudi hanya memberi kesempatan sekitar 10.000 warga ekspatriat dan penduduk asli Arab Saudi untuk melakukan ibadah haji dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. 

Maka, suasana di Kota Makkah, termasuk di sekitar Masjidil Haram pun sangat lengang. Jumlah jamaah haji yang sedikit itu membuat kawasan Masjidil Haram, termasuk area Thawaf sekitar Kakbah, seperti kosong. Sejumlah jamaah tampak melakukan ritual haji. 

Kondisi itu membuat pelaku usaha kolaps. Misalnya, usaha transportasi, penjualan suvenir, hotel, hewan kurban, semua bangkrut.  

Seperti dialami Sajjad Malik yang  pengusaha transportasi. Pria ini terlihat sedih. Kantor pemesanan taksi yang dia kelola dekat Masjidil Haram di Makkah kosong. "Tak ada pekerjaan, tak ada gaji, tak ada apa-apa di sini," katanya.

"Biasanya dua atau tiga bulan sebelum ibadah haji, saya dan para pengemudi menghasilkan cukup banyak uang untuk bertahan selama sisa tahun ini. Tapi sekarang tidak ada apa-apa," katanya lagi seperti dikutip dari bbc.com.

Salah satu pengemudinya, Samiur Rahman, mengabari kantornya tentang keadaan di jalan-jalan sekitar menara jam Makkah yang populer itu. Biasanya lautan ihram para peziarah bergerak tiada henti. Tapi lautan ihram warna putih itu kini hilang. 

"Biasanya para peziarah berbaris di jalan-jalan, berpakaian putih, dengan memakai payung untuk melindungi diri dari panas yang hebat. Kini hilang," katanya.

Saat ini mobil-mobil kosong tanpa penumpang dan kota terlihat seperti kota hantu. Karyawan Sajjad hanya mengirimkan video-video merpati yang memenuhi jalan. Lalu berterbangan. 

"Pengemudi saya tidak bisa makan dan sekarang mereka tidur berempat atau berlima di satu kamar yang sebetulnya hanya cukup untuk dua orang," kata Sajjad. 

Tak Ada Bantuan

Lalu apakah Pemerintah Arab Saudi memberi mereka bantuan seperti yang dilakukan di Indonesia. "Tidak, tidak ada bantuan, tidak ada. Saya punya tabungan yang kami habiskan. Tapi saya punya banyak staf - lebih dari 50 orang bekerja untuk saya - dan mereka menderita," katanya.

Salah satu temannya menelepon kemarin mengabarkan, "'Tolong saya butuh pekerjaan, saya bahkan tidak peduli berapa gaji yang akan Anda bayar.' Percayalah, orang-orang menangis," katanya.

Di Makkah, meskipun layar pemesanan taksinya sepi pelanggan, Sajjad Malik tidak ingin kembali ke Pakistan, negara asalnya. Arab Saudi telah memberikan peluang ekonomi bagi warga di negara-negara tetangga yang berjuang untuk mendapatkan cukup uang.

"Bekerja di Saudi selama lebih dari delapan tahun telah membuat saya mampu memberi nafkah bagi anak-anak dan keluarga saya di rumah. Kami mendapatkan tunjangan medis gratis, dan ketika ada ibadah haji, ada penghasilan besar," katanya.

"Komunitas buruh sedang berjuang sekarang. Tapi negara ini masih nomor satu bagi saya, Alhamdulillah," katanya lagi.

Arab Saudi menjadi salah satu negara di Timur Tengah yang mencatatkan jumlah positif Covid-19 cukup banyak.  Biasanya, dua juta peziarah datang dari seluruh dunia ke Makkah. Namun, kini mereka tidak diizinkan masuk dalam upaya menghentikan penyebaran Covid-19.

Hanya mereka yang sudah tinggal di negara itu yang diizinkan untuk melakukan ibadah haji. Jumlah jamaah yang diizinkan sempat simpang siur, ada yang menyebut hanya 1.000 jamaah dan ada yang menyebut jumlah jamaah 10.000 orang.

Peziarah tidak akan dapat dengan bebas minum dari Zamzam yang suci, airnya kini harus ditaruh di botol masing-masing jamaah.  Saat melakukan ritual jumrah di tiga pilar di Mina, yang melambangkan penolakan iblis, kerikil harus disterilkan.

Tak Ada Pembeli

Bukan hanya pengusaha transportasi, pengusaha lain juga gulung tikar. Misalnya pengusaha ternak yang bisanya berjualan untuk hewan kurban. Tahun sebelumnya gelombang besar peziarah biasanya mendatangkan pesanan yang menguntungkan bagi peternak dari negara-negara tetangga. Salah satunya Kenya. Kini, kawanan ternak itu banyak yang tidak terjual.

"Bisnis ternak di Kenya besar dan merupakan andalan bagi sebagian besar rumah tangga di negara ini. Sebagian besar peternak memperoleh keuntungan terutama selama periode haji," kata Patrick Kimani dari Asosiasi Produsen Ternak Kenya.

"Ribuan sapi tak terjual di Kenya karena pembatasan ibadah haji," kata Patrick Kimani.

Rata-rata, anggotanya mengekspore 5.000 ekor sapi ke Arab Saudi untuk ibadah haji. "Peternak sekarang melakukan diversifikasi ke daging beku dan pasar lokal. Kami khawatir hal itu dapat menurunkan harga sapi lokal karena semua produk tambahan itu bisa dikenai potongan harga bagi pembeli lokal agar cepat laku." katanya.

Ibadah Haji sudah dimulai sejak masa Nabi Muhammad 1.400 tahun yang lalu dan pembatasan ibadah haji seperti yang sekarang diberlakukan oleh Arab Saudi sangat jarang terjadi. Banyak negara terpukul oleh pembatasan jumlah jamaah haji ini. 

Tahun lalu, Pakistan banyak mengirim peziarah asing ke Arab Saudi. Tapi hari ini di Karachi, salah satu biro haji, Shahzad Tajj mengatakan perusahaannya, Cheap Hajj and Umrah Deals, berada di ambang kehancuran.

Operator perusahaan travel Shahzad Tajj terpaksa menjual propertinya untuk melewati masa-masa sulit pandemi.

"Pada dasarnya, bisnis kami 'nol'. Bahkan kegiatan layanan perjalanan lainnya tidak berjalan. Seperti penerbangan, logistik, pengiriman - jadi tidak ada yang bisa dijual. Sejujurnya, kami tidak sepenuhnya siap untuk ini. Kami harus mengurangi jumlah staf kami ke jumlah minimal. Kami terpaksa menjual aset, mobil, dan beberapa properti kami, untuk setidaknya melewati tahap ini. Saya membantu beberapa anggota tim saya dengan dana darurat, tetapi hanya itu yang saya lakukan saat ini," katanya.

Pembatasan tahun ini juga berdampak besar pada kota-kota Makkah dan Madinah, yang menerima miliaran dolar dari bisnis terkait jamaah haji.

"Meskipun sebagian besar biaya pelaksanaan ibadah haji menjadi lebih hemat tahun ini, Makkah dan Madinah akan merugi sekitar $ 9 milyar - $ 12 milyar (lebih dari Rp 130 triliun)," kata Mazen Al Sudairi, kepala penelitian di perusahaan jasa keuangan Al-Rajhi Capital di Riyadh.

Al-Sudairi mengatakan pemerintah telah turun tangan untuk membantu. "Mungkin usaha kecil dan menengah menderita, tetapi bank sentral Saudi berusaha mendukung segmen ini dengan memberi mereka bantuan. Bank itu menunda kewajiban pembayaran pinjaman mereka untuk dua atau tiga bulan lagi. Kami percaya bahwa kami menghadapi masa pemulihan - kami pikir yang terburuk ada di belakang kami," katanya.

Lebih dari 80% pendapatan nasional Arab Saudi berasal dari minyak, tetapi harga minyak anjlok, dan memaksa negara itu untuk melakukan diversifikasi. "Namun segalanya belum berjalan dengan baik," kata Alexander Perjessy dari Moody's Sovereign Risk Group.

Pemerintah mengumumkan pada Maret 2020 akan menunda berbagai pungutan wajib, serta Pajak Pertambahan Nilai, selama tiga bulan. "Tapi ini tidak akan mencegah resesi di sektor ekonomi non-minyak - kami pikir sektor itu akan berkontraksi sekitar 4%, "katanya. (bbc/hud)

×
Berita Terbaru Update