-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mendikbud Minta Maaf, Lalu Lobi Muhammadiyah, NU, dan PGRI

Kamis, 30 Juli 2020 | 00.30 WIB Last Updated 2020-07-29T17:30:05Z


JAKARTA (DutaJatim.com) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyambangi Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jalan Menteng Nomor 62, Jakarta Pusat, Rabu (29/7/2020).  Kedatangan Nadiem ke PP Muhammadiyah ini dilakukan setelah polemik Program Organisasi Penggerak (POP) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Selain Muhammadiyah, Mendikbud juga disebut akan menyambangi Gedung PBNU dan PGRI.

Hal itu setelah sebelumnya Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) memilih mundur dari program Kemendikbud itu lantaran dinilai banyak kejanggalan. Salah satunya soal yayasan yang seharusnya memberi bantuan (CSR) ke yayasan lain, dalam program ini justru mendapat dana yang sangat besar dari Kemendikbud. Dua lembaga yang disoal itu adalah Yayasan Putera Sampoerna dan Tanoto Foundation. 

Pantauan di lokasi, Nadiem datang ke Gedung Dakwah PP Muhammadiyah dan melakukan pertemuan dengan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti beserta jajarannya.  Usai pertemuan, Nadiem yang mengenakan kemeja lengan panjang itu langsung menuju kendaraannya tanpa memberikan sepatah kata pun. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan Gedung PP Muhammadiyah. Kunjungan Mendikbud itu terkait dengan sikap tiga organisasi besar di bidang pendidikan tersebut.

Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, LP Maarif NU, dan PB PGRI telah menyatakan mundur dari Program Organisasi Penggerak (POP) yang diluncurkan Kemendikbud. Mendikbud Nadiem Anwar Makarim pun meminta maaf kepada ketiga organisasi tersebut.

Tak hanya itu, Nadiem berharap ketiga organisasi tersebut bisa kembali ke POP untuk membantu reformasi pendidikan nasional.  Mendikbud berharap Muhammadiyah, NU, dan PGRI yang selama ini sudah menjadi mitra strategis pemerintah dan berjasa besar di dunia pendidikan bahkan jauh sebelum negara ini berdiri, dapat kembali bergabung dalam POP.

"Dengan penuh rendah hati, saya memohon maaf atas segala ketidaknyamanan yang timbul dan berharap agar ketiga organisasi besar ini bersedia terus memberikan bimbingan dalam proses pelaksanaan program, yang kami sadari betul masih jauh dari sempurna,” kata Nadiem dalam keterangan tertulisnya.

Mendikbud juga menegaskan bahwa Yayasan Putera Sampoerna bersama Tanoto tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk Program Organisasi Penggerak (POP). Dia menjelaskan yayasan tersebut menggunakan skema pembiayaan mandiri.

"Berdasarkan masukan berbagai pihak, kami menyarankan Putera Sampoerna Foundation juga dapat menggunakan pembiayaan mandiri tanpa dana APBN dalam Program Organisasi Penggerak dan mereka menyambut baik saran tersebut,” kata Nadiem dalam siaran persnya.

Nadiem menjelaskan bahwa organisasi yang menanggung biaya pelaksanaan program secara mandiri nantinya tidak wajib mematuhi persyaratan pelaporan keuangan yang diperlukan untuk Bantuan Pemerintah. Tetapi pihaknya, kata Nadiem, tetap meminta laporan pengukuran keberhasilan program dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik.

Cara yang dilakukan, kata Nadiem, yaitu dengan melakukan instrumen pengukuran antara lain asesmen kompetensi minimum dan survei karakter untuk SD,SMP, dan SMA. Kemudian, instrumen capaian pertumbuhan dan perkembangan anak untuk PAUD.

“Kami yakin penguatan gotong-royong membangun pendidikan ini dapat mempercepat reformasi pendidikan nasional yang diharapkan kita semua," ungkap Nadiem.

NU Memuji

Sementara itu Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU), Arifin Junaidi, memberi penghargaan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, akan keberaniannya menyampaikan permintaan maaf terkait polemik dalam masalah Program Organisasi Penggerak.

"Permintaan maaf dari pejabat tinggi di negara kita merupakan peristiwa langka. Itu merupakan sikap ksatria yang sangat baik yang patut ditiru,” kata Arifin kemarin.

Selain permintaan maaf itu, Arifin mengharapkan akan lebih baik kalau Mendikbud Nadiem memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya lagi.

"Dia sudah mengakui kesalahan, meminta maaf, mengatakan akan memperbaiki, dan meminta bimbingan. Buktikan itu semua dalam tindak nyata bukan sekadar ucapan,” kata Arifin.

Namun, meskipun sudah ada permintaan maaf dan janji Nadiem untuk memperbaiki, Arifin menegaskan, LP Ma'arif NU tidak serta merta menyatakan bergabung kembali ke POP.

"Untuk mengevaluasi dan meninjau kembali penerima POP, kami butuh waktu. Apakah cukup waktu yang tersisa sampai akhir tahun untuk melaksanakan program tersebut?" pungkasnya. (okz/bsc)

×
Berita Terbaru Update