-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kisah Pejuang yang Juga Pendiri NU, KH Abdul Chalim (1): Berjuang dalam Diam Mendampingi Mbah Hasyim dan Mbah Wahab

Thursday, August 20, 2020 | 10:21 AM WIB Last Updated 2020-08-20T03:42:11Z


Oleh: Djoko Pitono dan H.A. Lazim Suadi


"Leuwimunding? Saya punya guru di sana, sudah wafat memang. Namanya Kiai Abdul Chalim."


PRESIDEN ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), suatu ketika, teringat akan gurunya itu. Namanya Kiai Haji Abdul Chalim (1898-1972). Sebagai guru Gus Dur, tentunya, Kiai Chalim termasuk ulama besar di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Beliau memang termasuk  satu di antara delapan kiai pendiri NU. Namun jarang sekali tokoh ini ditulis dan menjadi perbincangkan publik. 


Dan masyarakat pun baru membicarakannya saat Gus Dur berziarah ke makam Kiai Chalim di Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, pada Maret 2003 silam. Kemudian Kiai Chalim juga tersorot saat rombongan Kirab  Santri Nasional 2015 Surabaya-Jakarta singgah dan berdoa di makam kiai tersebut.


Lalu mengapa Gus Dur berziarah ke makam KH Abdul Chalim Leuwimunding?  Tentu saja karena Beliau gurunya Gus Dur. Selain itu Kiai Chalim juga termasuk kiai pendiri NU. 

Alkisah pada awal 2003, sejumlah pengurus dan anggota Banser NU Majalengka sowan kepada Gus Dur di kediamannya di Ciganjur Jakarta Selatan. Saat tiba di Ciganjur, Gus Dur ternyata masih belum datang dari kunjungan ke Prancis.


“Ya, para anggota Banser memutuskan menunggu beberapa hari,” kata Ustadz Arifin Muslim, mantan Ketua Banser Majalengka.


Berita Terkait: Kisah KH Abdul Chalim, Pejuang yang Juga Pendiri NU (2): Berjalan Kaki 14 Hari ke Surabaya untuk Bertemu Mbah Wahab



Menurut Arifin, setelah Gus Dur datang dari kunjungannya di luar negeri, para aktivis Banser itu diterima di kediamannya. Dalam perbincangan tersebut, Gus Dur bertanya dari mana para tamunya itu.


Saat diberitahu bahwa para Banser itu dari Leuwimunding, Majalengka, sontak Gus Dur pun kaget. “Leuwimunding? Saya punya guru di sana, sudah wafat memang. Namanya Kiai Abdul Chalim,” kata Gus Dur seperti ditirukan Ustadz Arifin.


Segera saja, kata Arifin, Gus Dur memanggil stafnya untuk mengagendakan ziarah ke makam Kiai Abdul Chalim, dalam rangkaian acara kunjungannya ke Cirebon dan sekitarnya. Gus Dur pun akhirnya ziarah ke makam Kiai Chalim.


Dalam sambutannya sekitar 45 menit di depan warga Leuwimunding di area makam Kiai Chalim, Gus Dur mengemukakan peran besar Kiai Chalim di masa sebelum berdirinya NU, saat pendirian, dan dalam perkembangan NU.


“Banyak yang hadir saat kunjungan ziarah Gus Dur di makam Kiai Chalim. Ada ratusan orang warga Nahdliyin,” tutur Ustadz Arifin.


Kunjungan Gus Dur tersebut menunjukkan betapa besarnya perhatian pemimpin terkemuka NU dan mantan Presiden RI tersebut kepada Sang Kiai sepuh tersebut. Pertanyaannya sekarang, bagaimana perhatian warga masyarakat, terutama kalangan NU sendiri?  Tidak mudah memang merangkai cerita tentang seorang tokoh yang selalu “bekerja dalam diam” itu.


Tokoh ini sungguh rendah hati. Untungnya, ada sejumlah tulisan karya Kiai Chalim yang ditinggalkan, khususnya tentang berdirinya NU, tokoh-tokohnya, serta perkembangan NU hingga tahun 1970. Tahun itulah buku karya Kiai Chalim, “Sejarah Perjuangan KH Wahab Chasbullah” yang ditulis dengan huruf Arab Pego, diterbitkan.


Sebuah buku kecil memang, yang dilampirkan di bagian belakang buku ini. Tetapi itulah satu di antara sedikit buku yang membahas sejarah NU saat itu. Amat langka penulis yang menulis buku tentang NU, termasuk dari kalangan NU sendiri.


Tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa Kiai Chalim sangat dekat dengan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah. Dengan kata lain, Kiai Chalim adalah orang kepercayaan kedua ulama terkemuka tersebut. 


Lewat  Kiai Chalim, dua kiai tersebut merancang komunikasi lewat surat-surat dengan para ulama terkemuka se Jawa dan Madura.  Sebagai kiai yang juga berpendidikan sekolah Belanda dan pernah bermukim di Makkah, Kiai Chalim piawai dalam menulis dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Arab.


Maka, setelah mencermati beragam buku terkait kelahiran NU dan hal-hal yang menyangkut keistimewaan masing-masing ulama terkemuka saat itu, bisa diambil beberapa kesimpulan, di antaranya adalah peran utama komunikasi dalam beragam surat menyurat, termasuk surat para ulama NU yang dibawa Komite Hijaz untuk Raja Ibnu Saud, yang diperankan oleh KH Chalim Leuwimunding. 


Rasionalitas lainnya adalah bahwa Kiai Chalim-lah yang menyusun anggota-anggota Komite Hijaz dan anggota-anggota Pengurus PBNU yang pertama, sebelum disampaikan kepada KH Wahab Chasbullah dan KH Hasyim Asy’ari, untuk disempurnakan dan disahkan. (*)

×
Berita Terbaru Update