-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

PDIP Jagokan Eri Cahyadi Lawan Machfud Arifin

Kamis, 03 September 2020 | 09.01 WIB Last Updated 2020-09-03T02:01:06Z

 

Risma hadir menjadi magnet dalam deklarasi Eri-Armuji di Taman Harmoni. (detik.com)


SURABAYA (DutaJatim.com) - Seperti sudah diduga sebelumnya, DPP PDI Perjuangan akhirnya mengumumkan nama Eri Cahyadi dan Armuji sebagai bakal calon walikota dan wakil walikota dalam Pilkada Kota Surabaya Desember 2020 mendatang. Hal itu diumumkan oleh  Ketua DPP PDIP bidang Politik, Puan Maharani, saat membacakan nama sejumlah pasangan bakal calon kepala daerah di Jatim, khususnya Surabaya,  secara virtual Rabu (2/9/2020).


"Apa kabar Pak Kusnadi, ini ada banyak pengumuman di Jatim. Jatim harus siap. Tolong yang di Jatim semuanya berdiri. Terkait dengan Kota Surabaya, surat yang kami pegang belum kami buka dan segera bisa melakukan konsolidasi," kata Puan mengawali pengumumannya. 


Puan mengatakan, atas izin ketua umum amplop ini dibuka dan dibacakan. 


"Rekomendasi kota Surabaya adalah Eri Cahyadi dan Armuji. Semoga semua kader bisa memenangkan Surabaya," ucap Puan. 


Dengan demikian pasangan bakal calon walikota Surabaya Eri Cahyadi- Armuji ini akan melawan Machfud Arifin. Dalam pilwali Kota Surabaya nanti, Machfud yang mantan Kapolda Jatim disebut-sebut akan berpasangan dengan bakal calon wakil walikota, Mujiaman, yang mantan Direktur Utama PDAM Surabaya. Machfud Arifin diusung 8 partai politik yakni Golkar, PKB, PKS, PAN, Gerindra, PPP, Demokrat, dan Nasdem.


Nama Mujiaman, kata ketua tim pemenangan Machfud Arifin, Miratul Mukminin, dipilih melalui proses pembahasan panjang dan sudah melalui konsultasi dengan berbagai pihak maupun 8 partai politik pendukung. "Alhamdulillah semua partai pendukung menerima figur Mujiaman," kata Miratul.


Mujiaman, kata dia, bukan representasi partai politik pendukung, namun dari kalangan profesional yang dipercaya bisa ikut membangun Surabaya untuk menjadi kota yang maju. Dia dinilai cocok membantu Machfud Arifin yang dikenal sebagai mantan Kapolda Jatim.


Sedang Eri Cahyadi sendiri merupakan Kepala Bappeko Surabaya yang selama ini memang disebut-sebut sebagai kader Risma di Pemkot Surabaya. Eri selama ini disebut mendaftar di DPP PDI Perjuangan secara langsung.


Lain halnya dengan Armuji. Dia adalah politisi PDI Perjuangan yang juga mantan Ketua DPRD Surabaya dan saat ini menjadi anggota DPRD Jatim.


Selama ini Kota Surabaya menjadi kandang banteng. Kota pahlawan menjadi lumbung suara bagi PDIP. Karena itu banyak pihak menilai Machfud Arifin yang mantan Kapolda Jatim cukup berat melawan jago PDIP. Namun, pilkada tahun ini mesin partai bisa menjadi nomor dua. Yang pertama adalah figur calon pilkada sendiri.  Karena itu, posisi Machfud Arifin masih imbang saat melawan Eri Cahyadi di pilkada Desember 2020 mendatang. 


Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto meyakini rakyat Surabaya memiliki kesadaran dan semangat juang untuk menjaga Surabaya agar tidak jatuh ke tangan pihak yang ingin merombak tata keindahan kota hanya karena daya gerak kekuatan modal.  "Bagi PDI Perjuangan, kekuasaan itu membangun peradaban, terlebih untuk Kota Surabaya yang telah hadir sebagai laboratorium politik dimana Pancasila begitu membumi," ucapnya.


Hasto juga menyebut, kepemimpinan Tri Rismaharini bersama seluruh jajaran birokrasi dirasakan betul kehadirannya oleh masyarakat Surabaya.


"Ibu Megawati Soekarnoputri mempertimbangkan dengan seksama tentang siapa yang dicalonkan, sebab keputusan terhadap sosok pemimpin Surabaya berkorelasi langsung terhadap kehidupan rakyat kecil, dan juga menentukan arah masa depan kota yang indah," tuturnya.


Harapan Risma


Pilkada Surabaya diselenggarakan pada 9 Desember 2020, dan pendaftarannya dibuka mulai 4 sampai 6 September 2020. Dalam mengalahkan Machfud Arifin,  Eri diperkirakan masih mengandalkan Walikota  Surabaya Tri Rismaharini (Risma). Karena itu, saat deklarasi Eri-Armuji di Taman Harmoni kemarin kehadiran Risma-lah yang menjadi magnet. 

Risma sendiri berharap penggantinya dapat membuat Surabaya lebih berkembang. Risma menuturkan, nantinya calon penggantinya dari PDI Perjuangan bisa meneruskan program-program yang sudah dijalankannya selama ini. Risma menambahkan, banyak ide-ide dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dijalankannya sehingga program Surabaya berjalan dengan baik.


"Jadi begini ya, contohnya, Ibu Megawati bilang zaman dulu itu anak kecil-kecil dikasih makan, supaya fisiknya bagus, dan tidak stunting. Itu masukan ibu ketua umum, sama juga lansia. Jadi pimpinan PDIP itu ada sekolah kepala daerah," ujar dia.


Selain itu, lanjut dia, PDI Perjuangan  juga memberikan pendidikan kedisiplinan terutama pada kepala daerah dari partai berlambang kepala banteng ini.


"Tiap kali Rakernas tidak boleh terlambat, jadi kalau terlambat langsung dicoret, dihukum, bahkan ada yang dipecat. Jadi ada yang titip absen itu, ketahuan langsung dipecat, jadi kita bener-bener diajari, digodok disiplin, diajari bagaimana membuat kota ini menjadi bagus, ya, memang macam-macam penerimaannya, dan saya banyak belajar, seperti pokak, itu kita belajar saat pameran, Ibu Mega buat pameran rempah-rempah itu," tutur dia.


Jika nantinya sudah terpilih penggantinya, Risma berharap Surabaya bisa lebih berkembang, bukan sebaliknya.


"Kondisi Surabaya saat ini tidak boleh lebih buruk. Jadi kenapa ibu ketua umum memperhatikan ini, karena Surabaya ini sudah dikenal di seluruh dunia. Kenapa ibu ketua umum dan semua tim di DPP sangat hati-hati menentukan Surabaya? Itu karena tidak ingin Surabaya turun kondisinya," ujar dia. 


Risma mengatakan Megawati memberikan perhatian khusus kepada Kota Surabaya, sebab selama ini Surabaya sudah dikenal di dunia terkait perkembangan kotanya dan prestasinya.


Risma mengatakan dengan kemampuan Kota Surabaya mengelola keuangan dengan baik, maka pemkot bisa memberikan pendidikan gratis dan pengobatan gratis, serta partisipasi masyarakat yang sudah terbangun dengan baik. Menurut Risma, sangat disayangkan jika ia sudah tidak memimpin dan melihat kondisinya Surabaya turun.


"Sayang sekali kalau sudah seperti ini, Kota Surabaya harus turun. Sayang sekali kalau hanya karena pemilihan yang transaksional, kemudian kota ini menjadi turun, sayang sekali gitu," ungkap Risma.


Risma menyebut penggantinya nanti haruslah seseorang yang visioner. Agar nantinya tidak kaget ketika ada masalah seperti COVID-19.


"Ya harus lah, Kalau pemimpin tidak visioner ya susah, nanti kaget kalau ada masalah. Coba bayangin saat kejadian seperti COVID-19," tandas Risma. (nas)

×
Berita Terbaru Update