-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Antisipasi Musim Hujan, Warga RT V RW XI Bluru Permai Sidoarjo Kerja Bhakti Bersihkan Got

Minggu, 18 Oktober 2020 | 22.22 WIB Last Updated 2020-10-18T20:27:48Z

 





SIDOARJO (DutaJatim.com) - Musim hujan mulai tiba. Alhamdulillah, wilayah Perumahan Bluru Permai, Desa Bluru Kidul, Kec. Kota Sidoarjo sudah diberi hujan oleh Allah SWT meski baru sekali. Namun sepertinya Allah SWT memang masih memberi kesempatan kepada warga untuk bersiap menghadapi musim hujan yang sesungguhnya--di mana puncaknya diperkirakan pada  Desember 2020 dan Januari - 2021 mendatang. 


"Jangan sampai saat puncak musim hujan itu wilayah kita ini terkena banjir," kata Pak Bambang Tri, Ketua RT V di sela-sela acara kerja bhakti Minggu 18 Oktober 2020.


Salah satu yang dilakukan warga untuk mencegah banjir  adalah kerja bhakti. Ya seperti kegiatan gotong royong yang dilakukan oleh warga RT V RW XI Bluru Permai. Mereka sejak pagi hingga siang hari  membersihkan rumput, memangkas pohon yang rimbun, dan membuang sampah yang ada di lingkungannya. 


Bahkan juga membersihkan lumpur di saluran air atau got di depan rumah masing-masing warga. Lumpur yang menumpuk di got bisa menghambat aliran air hingga memicu banjir. 


Yang membanggakan, warga bergotong royong guyup membersihkan got yang buntu. Saat tahu ada saluran air mampet, warga langsung turun tangan mencangkul lumpur lalu dibawa ke tempat pembuangan sampah di lahan yang kosong. Warga bergantian mencangkul lumpur dan membuangnya.


Bahkan ada saluran air yang tertutup beton corcoran bekas penutup got. Tentu saja sulit menghancurkan corcoran tersebut. Tapi tidak ada yang sulit bila dilakukan dengan gotong royong. Hampir semua warga yang ikut kerja bhakti akhirnya fokus menghancurkan beton yang semula jadi semacam jembatan untuk lewat sepeda motor keluar masuk rumah salah seorang warga tersebut. 


Ada yang memukul dengan palu godam, ada yang memotong besinya, ada pula yang mengeruk lumpurnya. Sangat sulit. Butuh kerja keras. Akhirnya salah seorang warga mengambil gerinda untuk memotong besi-besi corcoran tersebut hingga semua bisa dibersihkan.


"Inilah canggihnya gotong royong," kata Pak RT.




Acara kerja bhakti juga diwarnai turun tangannya para ibu yang mengeluarkan makanan dan minuman. Bukan hanya snack tapi juga nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya.  "Semoga di perumahan kita ini tidak banjir," kata Pak Bambang Tri.

Potensi La Nilna

Seperti diketahui Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisikasi merilis prakiraan jadwal musim hujan di Indonesia pada akhir tahun 2020 dan awal 2021. BMKG memprediksi musim hujan di Indonesia akan mulai berlangsung secara bertahap pada bulan Oktober 2020, terutama di wilayah barat.


Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyatakan, kawasan Indonesia akan mulai memasuki fase puncak musim hujan pada awal tahun 2021.


 "Sebagian besar wilayah [Indonesia] diprakirakan mengalami puncak musim hujan pada Januari dan Februari 2021, yaitu sebanyak 248 ZOM [Zona Musim] atau 72,5 persen," kata Dwikorita dalam siaran resmi BMKG.


Dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 34,8 persen diprediksi akan mengawali musim hujan pada Oktober 2020. Wilayah-wilayah itu tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.


Sedangkan 38,3 persen wilayah ZOM lainnya akan memasuki musim hujan pada November 2020. Kawasan yang termasuk di kategori tersebut berada di sebagian Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.


Kemudian, musim hujan di 16,4 persen kawasan ZOM sisanya, yang tersebar di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, NTB, NTT, dan Papua, diperediksi memasuki awal musim hujan pada Desember 2020. 



BMKG memperkirakan kondisi musim hujan di wilayah 27,5 persen Zona Musim Indonesia tahun ini akan cenderung "lebih basah" daripada kondisi rerata klimatologisnya. Sementara 243 Zona Musim atau 71 persen diprediksi akan mengalami musim hujan secara normal.


Kondisi ini setidaknya disebabkan oleh dua faktor. Keduanya adalah adanya potensi La Nina yang ditunjukkan oleh anomali suhu di Samudera Pasifik dan kondisi IOD negatif di Laut Hindia.


Dwikorita menjelaskan, pemantauan BMKG terhadap anomali suhu muka laut pada zona ekuator di Samudera Pasifik hingga akhir Agustus 2020, menunjukkan ada potensi La Nina yang bisa memicu peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. 


La Nina berkaitan dengan lebih dinginnya suhu muka laut di Samudera Pasifik ekuator dan lebih panasnya suhu muka laut di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, La Nina bisa memicu peningkatan suplai uap air yang pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah Indonesia. 


Prakiraan BMKG tentang potensi peningkatan curah hujan pada musim mendatang tersebut selaras dengan prediksi beberapa institusi meteorologi dunia lainnya. Banyak institusi meteorologi menilai ada potensi anomali iklim atau La Nina pada periode musim hujan 2020-2021.


Prediksi peningkatan curah hujan juga diperkuat oleh hasil pemantauan BMKG terhadap anomali suhu muka laut di Samudra Hindia yang menunjukkan kondisi IOD negatif. Kondisi IOD negatif ini berpeluang bertahan hingga akhir 2020. 


"IOD negatif menandai suhu muka laut di Samudra Hindia sebelah barat Sumatera lebih hangat dibandingkan suhu muka laut Samudra Hindia sebelah timur Afrika," kata Dwikorita. 


"Ini juga bisa menambah suplai uap air untuk pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia dan menghasilkan peningkatan curah hujan, khususnya di wilayah Indonesia barat," tambah dia. (gas)

×
Berita Terbaru Update