-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kisah dr. Ninoek Kehilangan Suami di Depan Mata karena Covid-19: 'Al-Quran Menjadi Obat Tegar bagi Saya’ (1)

Kamis, 08 Oktober 2020 | 18.17 WIB Last Updated 2020-10-08T11:36:52Z

 

Almarhum Tri Yanuar (lima dari kiri).



Sebagai tenaga kesehatan, dr. Ninoek Pudjiasih bersama keluarga berusaha konsisten untuk menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Protokol kesehatan untuk tidak tertular Covid-19 benar-benar diterapkan. Namun entah dari mana keluarga ini tertular. 


PADA hari Sabtu (29/8/2020) dan Minggu (30/8/2020) malam, suami dr. Ninoek menggigil dan sedikit batuk.  Beliau mencoba untuk memberi obat demam yang ada di rumah, namun nggak bisa turun demamnya. Beliau mulai was-was, jangan-jangan ini covid-19. Senin (31/8/2020) pagi menyusul, dr. Ninoek mulai demam dan kepala pusing, ditambah batuk sedikit-sedikit. 


Akhirnya pagi itu juga suami istri ini ke RS PHC untuk swab. Esok paginya dapat WA dari RS PHC, ternyata hasilnya positif. Karena mereka berdua positif, akhirnya anak kembarnya diperiksakan swab di RS PHC, si kembar tanpa demam dan hanya batuk kadang-kadang saja. 


Ternyata hasilnya positif juga. Rabu (2/9/2020) pagi mereka berempat minta tolong ke teman sejawat , dr Lita SpPD, beliau menganjurkan untuk segera ke RS aja, lebih aman, sebab beliau mengkhawatirkan suaminya. 


Akhirnya mereka berempat dirawat di RS Husada Utama Surabaya. Di lantai 14 dengan ruangan sudut berukuran kurang lebih 5x12 m. Ternyata Allah Maha Berkehendak, setelah seminggu dirawat, suami tercinta dipanggil Yang Maha Kuasa. 

Selanjutnya, tinggallah mereka bertiga di ruangan tersebut yang terus saling menguatkan satu sama lain  guna melawan penyakit yang mematikan itu. Berikut penuturan dr. Ninoek  Pudjiasih, secara lengkap:


Keluarga kami menempati rumah di Wisma Permai Waru, Sidoarjo. Kami mempunyai 3 anak, yang pertama bernama Helmi (24 tahun) sudah menikah dan tinggal di Jakarta. Adiknya kembar yakni Hafidz dan Hanif (19 thn). Suami saya bernama  Tri Yanuar (52 th) sehari-hari bekerja di BNI Malang. Saya sendiri sebagai dokter dan buka praktek di rumah. 


Kami tidak tahu Covid-19 itu dari mana asalnya sebab kami merasa sudah menjaga protokol kesehatan dengan ketat di rumah. Alhamdulillah, yang dekat dengan saya seperti teman satgas, asisten di rumah, hasil swabnya negatif. Juga demikian di kantor suami di Malang, hasil swabnya negatif juga. 


Berikut saya akan menceritakan awal-awal suami mulai sakit. Saat itu, Sabtu, 29 Agustus malam 2020,  suami terasa nggreges dan batuk kering. Langsung aku pijat. Saya beri Azitromisin, obat flu dan probiotik untuk diminum. Paginya sudah enakan. Suamiku subuhan ke Masjid Raudlatul Jannah yang ada di kompleks perumahan kami, Perum Wisma Permai, Desa Pepelegi, Waru, Sidoarjo Jawa Timur.


Malam harinya, tiba-tiba suamiku menggigil lagi. Obat demam setiap 4 jam yang saya berikan tak bisa menurunkan demamnya. Di sinilah, saya mulai curiga. “Wah…. Covid-19 ini,” gumamku  dalam hati.


Pada Senin pagi , 31 Agustus 2020, saya ikutan demam. Kepala pusing dan batuk kering. Setelah itu, kami berdua bersama suami langsung ke Rumah Sakit PHC, Perak, Surabaya untuk swab, setelah saya kontak seorang teman, dan sang teman yang juga dokter itu menyarankan berbagai obat. (Bersambung)

×
Berita Terbaru Update