-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Philadelphia, Kota Indah Simbol Toleransi (2): Mirip Yogya

Saturday, October 31, 2020 | 4:25 AM WIB Last Updated 2020-10-30T21:27:44Z

 

Syarif Syaifulloh bersama istri Hani White.


PHILADELPHIA (DutaJatim.com) - Salah satu diaspora Indonesia, Syarif Syaifulloh, saat ini tinggal di Kota Philadelphia bersama istri dan dua putranya. Mereka sudah tinggal di kota bersejarah di Amerika ini selama 19 tahun. Keluarga Syarif yang dijuluki Pak Tani Amerika ini betah tinggal di Philadelphia karena kotanya nyaman.


"Saya memilih tinggal di Kota Philadelphia karena nyaman. Banyak immigrants yang menetap di Philadelphia. Di sini ke mana-mana dekat. Untuk mendapatkan makanan Indonesia juga mudah. Restoran Indonesia banyak dan mudah dijangkau," kata Syarif Syaifulloh kepada DutaJatim.com Sabtu 31 Oktober 2020.


Penduduknya pun beragam. Yang membuatnya bersyukur, hubungan antarwarga juga baik. Hal inilah yang membuat Philadelphia diberi julukan kota paling toleran di Amerika.


"Dan bagi saya interaksi dengan penduduk setempat dan yang lain nggak ada masalah, karena saling  menghargai," katanya.


Kota Philadelphia, kata Syarif, mungkin hampir sama seperti Yogyakarta. Mirip Yogya. Banyak kisah sejarah Amerika di kota ini. Banyak bangunan-bangunan tua. Karena indahnya sering menjadi lokasi syuting film Hollywood.


"Benar juga...pembuatan film Rocky yang dibintangi Sylvester Gardenzio Stallone juga di kota ini. Banyak film terkenal syutingnya di Philadelphia sebab banyak tempat eksotik yang bersejarah. Bangunan berusia 350 tahun masih terawat dengan baik," katanya.


Syarif yang alumni SMPN 2 Depok 1986 juga menyebut banyak tempat-tempat bersejarah itu juga menjadi destinasi wisata. "Sebagian besar gratis," katanya.


Pak Tani sekarang sudah memiliki rumah dan lahan pertanian kecil di samping rumah untuk menanam sayur organik. "Immigrant yang memang sudah mempunyai surat kelengkapan Immigrasi boleh punya tanah di sini," katanya.


Syarif menceritakan ia sudah tinggal di Philadelpia AS selama 19 tahun dan menekuni pertanian sejak 10 tahun terakhir ini dengan belajar bertani secara otodidak.


Hampir 10 tahun menekuni berkebun di halaman rumah, Syarif Syaifulloh ternyata tidak pernah menjual sayuran yang ditanamnya. Secara sukarela ia membagi-bagikan kepada tetangga atau orang lain yang datang mengunjungi kebunnya untuk belajar, selain untuk konsumsi sendiri.


Datang ke Amerika Serikat pertama kali dia ikut pertukaran kebudayaan. Pekerjaan Syarif sesungguhnya adalah cook atau juru masak di salah satu rumah sakit besar CHOP atau The Children Hospital of Philadelphia.


Di negeri Paman Sam ini juga dia bertemu dengan wanita yang bernama Ummu Hani White yang kemudian dinikahinya. Wanita tersebut bekerja sebagai Commissioner Governor’s Advisory Commission on Asian Pacific American Affairs.


Dalam melakukan kegiatan bertani ini pemerintah AS sangat mendukung dan memberi apresiasi yang tinggi kepada petani. 


Ia menjelaskan, pasokan benih dan kompos mudah didapat dan gratis, bahkan media tanam juga diberi dari pemerintah secara cuma-cuma. Selain itu, petani juga memiliki budaya yang baik yaitu saling berbagi antarsesama.


Bahkan lanjut Syarif juga sempat diberi tanah seluas 500 meter persegi dari pemerintah setempat untuk diolah, namun ia hanya mengolahnya selama tiga tahun, kemudian dikembalikan lagi ke pemerintah.


"Kalau saya mau sewaktu-waktu lahan 500 meter ini bisa saya minta kembali," jelasnya. (Gatot Susanto)



×
Berita Terbaru Update