-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Santi Whiteside, Wanita Batak Ikut ‘Pilkada’ di Australia: Menjadi Istimewa di Tengah WNI yang Tak Banyak Berpolitik

Tuesday, October 27, 2020 | 10:27 AM WIB Last Updated 2020-10-27T03:27:06Z

 



Semakin banyak diaspora Indonesia berperan aktif dalam masyarakat di luar negeri.  Bahkan menjadi pejabat di negeri keduanya itu. Salah satunya Santi Whiteside yang sekarang tinggal di Whitehorse--sebelah timur Kota Melbourne, Australia. Saat ini Santi tengah berjuang memenangkan pemilihan councillor--semacam pilkada--di kotanya tersebut.  


ACHMAD SUPARDI, WNI yang sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di Australia, menilai, tampilnya Santi pada dasarnya hal wajar sebab setiap warga negara Australia memiliki hak memilih dan dipilih temasuk sebagai consiler. "Jadi ini sebenarnya bukan hal yang luar biasa, sebab semua warga negara tanpa melihat latar belakang bangsanya mereka boleh dipilih dan  memilih. Itu sama dengan di Indonesia," kata Achmad Supardi Rabu 27 Oktober 2020.

 

Hanya saja, kata mantan wartawan Harian Sore Surabaya Post ini,  bagi sebagian orang, apa yang dilakukan Santi tergolong istimewa. Mengapa? Ya, itu karena kebetulan di antara sekian banyak kelompok masyarakat di Australia, kelompok masyarakat Indonesia tergolong low profile. Dalam arti, para WNI diaspora itu tidak terlalu banyak terlibat dalam perdebatan politik, apalagi kegiatan politik praktis.


"Kalau di sini, di Brisbane, yang tentu berbeda dengan di Victoria Kota tempat Ibu Santi, masyarakat Indonesia juga aktif dalam hal kegiatan kemasyarakatan, banyak aktivis atau permanen resident Indonesia di Australia terlibat di banyak kegiatan kemasyarakatan. Banyak yang terlibat di kegiatan keagamaan maupun charity atau penggalanan dana kemanusiaan untuk para korban bencana. Mereka juga bekerjasama dengan kepolisian untuk memastikan komunitasnya aman," katanya. 


Tapi untuk kegiatan politik, seperti ikut pemilihan councillor ini, kata dia, memang relatif sedikit dibanding dengan kelompok masyarakat asal negara lain. Seperti misalnya dari India atau China. "Mereka sudah banyak berkecimpung dalam kegiatan politik," katanya. 


Lalu apakah masyarakat Indonesia membutuhkan seorang consiler? Menurut Supardi, di sebuah negara modern sebenarnya hal itu tidak terlalu penting, sebab aspirasi bisa disalurkan ke siapa pun dan melalui apa pun. Paling utama adalah daerah pemilihan (dapil), sehingga seorang consiler yang berasal dari suatu daerah bisa memperjuangkan aspirasi warga di dapilnya itu.


"Ya seharusnya disalurkan melalui consilernya tadi. Hanya saja bagi warga negara Indonesia yang ada di dapil Ibu Santi, pasti ada kedekatan personal atau emosional, yang dalam tataran demokrasi itu juga menjadi hal biasa, meski pun nanti bila terpilih Ibu Santi tidak seharusnya melihat kedekatan personal maupun emosional tersebut dalam mengambil kebijakan," katanya. 


Bukan karena Ambisi


Santi Whiteside sendiri sekarang sibuk menggalang dukungan untuk mengantarkannya ke kursi Dewan Pemerintah Kota. Bila lolos ke Dewan, perempuan yang sudah tinggal di Australia selama lebih dari 20 tahun itu berpeluang pula menjabat walikota setempat. 


'Councillor' sendiri adalah pejabat yang dipilih melalui pemilihan untuk 'Council' atau Dewan Pemerintah setingkat kabupaten atau kota. Nah salah satu dari 'councillor' itu sekaligus akan menjadi walikota atau 'mayor'. Sekarang Santi menjadi salah satu kandidat 'councillor' di kawasan Whitehorse.


Santi mengaku tak pernah berpikir mengikuti pemilihan 'council', apalagi terjun ke dunia politik di negeri kanguru. Namun, permintaan warga membuatnya harus terjun ke dunia politik. 


"Saya tak sengaja jadi politisi, bukan karena memang berambisi untuk jadi politisi atau kepala pemerintahan lokal," ujarnya seperti dikutip dari ABC Indonesia Rabu 21 Oktober 2020.


Santi mengaku jika aktivitasnya di sejumlah organisasi kemasyarakatan di Melbourne membuat rekan-rekannya meminta sekaligus  mendukung dirinya untuk maju dalam pemilihan yang digelar setiap empat tahun tersebut. Mereka pula kunci kemenangannya.


Santi dikenal sebagai duta multikultur dari yayasan kesehatan mental Australia (MHFA), Wakil Presiden Perhimpunan Warga Indonesia di Victoria, dan perkumpulan kuliner Indonesia. Bukan hanya itu, dia juga salah satu anggota komite di perkumpulan warga India di Australia. Inilah yang menjadikan wanita ini sangat unik dan menarik. 

"Meskipun saya berdarah Batak, tapi sudah lama saya tertarik dengan budaya India," katanya.


Ketertarikannya dengan budaya India membuat Santi juga aktif mengikuti kegiatan komunitas India di Melbourne. Karena itu Santi ingin agar semua warga, khususnya di daerah yang diwakilinya, mendapat pelayanan dan perhatian yang adil dari pemerintah dan masyarakat. Terlebih dia merasa warga dari beragam ras dan budaya di kawasannya belum terlalu terekspose atau terlibat dalam kehidupan bermasyarakat.


"Saya ingin membangun kehidupan masyarakat multikultur yang kuat dan harmonis, saling menghormati dan melihat satu sama lain sebagai satu keluarga besar Australia," ujar Santi.


Tanpa Politik Uang


Politik uang dalam sebuah pemilihan umum sudah menjadi rahasia umum di Indonesia, tapi Santi mengaku hal itu setidaknya tidak terjadi dalam pemilihan council di Victoria. 


"Biaya yang saya keluarkan ada di kisaran 10.000-20.000 dollar Australia (lebih dari Rp 100 hingga 200 juta)," kata Santi yang berasal dari Sumatera Utara ini. 


Bandingkan dengan biaya politik kontestan pilkada atau pemilihan DPRD di Indonesia yang menelan dana miliaran rupiah di mana selain membuat alat peraga kampanye juga untuk menyogok warga agar memilihnya. Tapi itu tidak terjadi di Australia. Biaya politik biasanya untuk alat peraga kampanye dan iklan. "Ya kebanyakan untuk membuat materi kampanye, seperti poster dan iklan di media," katanya.


Santi mengaku jika modal politiknya saat ini didapatkan dari kegiatannya di sejumlah organisasi, sehingga membuatnya paham sejumlah masalah yang dialami warga, terutama kaum migran baru. Misalnya, soal kesejahteraan, lapangan pekerjaan, kesehatan mental mereka.


"Jika saya terpilih di [kawasan] Wattle, maka saya akan mampu mengangkat masalah yang dihadapi warga di sini dengan memahami latar belakang budaya yang beragam," ujar dia kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.


Akibat ketatnya pembatasan aktivitas di tengah pandemi Virus Corona (covid-19), para kandidat councillor di negara bagian Victoria tidak dapat melakukan kampanye secara tatap muka.  Sebagai gantinya, Santi mengaku banyak warga langsung menghubungi dirinya, baik melalui telepon atau email, untuk mengetahui langkah apa yang dia akan ambil untuk mengatasi permasalahan di daerahnya.


Ibu dengan tiga anak yang bersuamikan pria Australia itu mengaku sudah pindah kewarganegaraan sejak 15 tahun lalu. Dia beralasan "untuk lebih memudahkan memperkenalkan budaya Indonesia di tingkat dunia".


Namun dia mengatakan hal tersebut tidak melunturkan nilai-nilai Indonesia yang tetap dia pegang teguh, terutama soal hidup dalam keberagaman budaya, hingga sekarang. Dia pun mengaku tetap bangga dengan adat Indonesia dan nilai-nilai yang dibesarkan keluarganya di Sumatera Utara.  


"Saya mengakui sebagai warga Australia dengan nilai-nilai Indonesia yang kuat. Saya tetap bangga dengan adat Indonesia dan nilai-nilai yang dibesarkan keluarga saya dan sekarang saya mengakui sebagai seorang warga Australia dengan nilai-nilai Indonesia yang kuat," ujarnya.


Bagaimanapun, kata dia, adat dan budaya Indonesia yang menekankan pada persatuan dan kesejahteraan keluarga sejalan dengan nilai-nilai dalam kehidupan di Australia. 


Soal pemilihan council sendiri, Santi mengaku dia tidak terlalu banyak berharap menang. Namun dia sudah sangat senang telah mendapatkan banyak pelajaran untuk berpartisipasi dalam politik praktis di Australia guna menyiapkan dirinya lebih baik dalam empat tahun mendatang.


"Salah satu alasan saya ingin ikut tahun ini juga adalah agar lebih banyak warga Indonesia [di Australia] untuk terjun ke dunia politik Australia untuk kehidupan warga yang lebih baik," ucap Santi. (Gatot Susanto)




×
Berita Terbaru Update