-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ziarah di Monumen Lubang Buaya Cemetuk, Lokasi Pemakaman Korban Pembantaian PKI di Banyuwangi

Senin, 05 Oktober 2020 | 01.00 WIB Last Updated 2020-10-04T18:21:42Z

 







BANYUWANGI (DutaJatim.com) - Selama ini masyarakat  hanya mengenal Monumen Lubang Buaya di Jakarta saja. Monumen itu untuk mengenang tragedi  pengkhianatan  Gerakan 30 September 1965 yang didalangi PKI  (G30S/PKI) dengan membunuh sejumlah jenderal Pahlawan Revolusi. Ternyata Monumen Lubang Buaya ada juga di Kabupaten Banyuwangi. Tujuannya sama untuk mengenang korban keganasan PKI. 



Monumen Lubang Buaya ini  ada di Desa Cemetuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Monumen Lubang Buaya Cemetuk, juga terdapat patung Garuda Pancasila raksasa lengkap dengan relief peristiwa kelam yang diotaki PKI di bagian bawahnya.

Bagian belakang patung Garuda Pancasila terdapat tiga lubang dengan bentuk persegi. Ketiga lubang itulah yang dimaksud sebagai monumen lubang buaya. Tempat pembuangan para korban setelah dibantai secara massal pada 30 September 1965 oleh PKI. Sama dengan monumen di Jakarta, monumen Lubang Buaya Cemetuk juga menjadi tujuan wisata religi dan wisata sejarah.

Tampak Minggu 4 Oktober 2020 kemarin sejumlah rombongan peziarah antara lain dari  Kabupaten Sidoarjo yang datang untuk napak tilas sejarah kekejaman PKI di Banyuwangi. Sejarah kelam yang selalu mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap ancaman PKI.

"Bahaya laten PKI itu riil. Kekejaman PKI itu riil. PKI juga terus menggalang kekuatan untuk bangkit lagi, dan itu juga riil. Bukan hantu. Kita harus waspadai PKI ini agar nanti tidak menyesal," kata salah seorang anggota rombongan Napak tilas jejak sejarah kelam PKI di Monumen Lubang Buaya Cemetuk.


Penjaga monumen Lubang Buaya Cemetuk, Supingi, seperti dikutip dari Merdeka Banyuwangi, membenarkan tragedi PKI itu. Semua dibuatkan reliefnya.


"Misalnya tiga lubang buaya yang besar itu isinya 42 orang yang dibuang di sana dan yang lubang kecil-kecil itu 10 orang korban,” ujarnya.





Perspektif sejarah G30 S PKI  dikemas dengan simbol-simbol relief, lubang buaya, dan beberapa teks di sekitar dinding patung menekankan kekejaman kelompok Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI digambarkan telah membantai 62 orang yang ditandai dengan nama pemuda Pancasila.
 
Dalam teks di monumen itu tertulis, “Monumen Pancasila Jaya di sini pada tanggal 18-10-1965 telah terjadi pembunuhan massal terhadap 62 orang pemuda Pancasila oleh kebiadaban  G 30 S/PKI."

Dalam perspektif baru penulisan sejarah G 30 S PKI terutama soal pembunuhan ke 7 jenderal di lubang buaya Jakarta, sudah ada beberapa versi baru. Sejarawan Asvi Warman Adam dalam buku Panggung Sejarah menyebut bahwa PKI bukan satu-satunya pelaku tunggal.

Ada lima versi siapa  di balik peristiwa G30 S yang terus menjadi perdebatan. Antara lain sebuah klik Angkatan Darat Penelitian Cornell Paper, Wertheim. Keterlibatan CIA/ Pemerintah Amerika Serikat (Peter Dale Scott, G Robinson). Presiden Soekarno (John Hughes, Antonie Dake), oknum PKI (Tim ISAI) dan tidak ada pelaku tunggal (Nawaskara, Manai Sophiaan).


Terlepas siapa dalang peristiwa G30 S  tentang pembunuhan para jenderal di Jakarta, usai peristiwa tersebut telah memantik pembantaian massal di daerah. Salah satunya terjadi di Cemetuk, Cluring pada 18 Oktober 1965.

Menurut warga di sekitar monumen tersebut, Supingi menjelaskan monumen Lubang Buaya Cemetuk dibangun pada tahun 1994. Saat peristiwa G30 S Supingi masih berusia 7 tahun. Meski begitu, dia masih ingat bagaimana suasa tegang situasi politik saat itu.

Mulanya Supingi tinggal di Desa Sumberwaru, Desa Tamanagung.  Baru pada tahun 1990 dia pindah ke di Desa Cemetuk. Lokasi rumahnya tepat di samping bangunan monumen Lubang Buaya Cemetuk. 

Hanya Satu Versi


Hingga saat ini cerita turun-temurun tentang peristiwa Lubang Buaya Cemetuk masih satu versi: 


Yakni Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang berafiliasi dengan PKI telah membantai para pemuda Ansor yang datang dari Muncar.  
 
“Saya enggak menyaksikan, cuma sedikit tahu ceritanya. Itu kan pemuda Ansor dari Muncar mau nyerbu (PKI) ke Yosomulyo daerah Gambiran situ, tapi gak mampu akhirnya pulang. Kebetulan satu mobil ada yang lewat Jeding sini (jalan menuju Cemetuk) dari muka jalan dihalangi kayu-kayu yang dipotong. Mobil gak bisa jalan. Akhirnya turun semua mobil dibakar sama tokoh-tokoh PKI. Dari sana ada pertempuran,” jelasnya panjang lebar.




Bila diamati peristiwa pasca G30 S di Banyuwangi, khususnya di Cemetuk masih ada perlawanan dari PKI. Supingi melanjutkan saat peristiwa pembakaran mobil, pemuda Ansor berlarian hingga nyasar di Cemetuk. “Karena pemuda Ansor mau membakar daerah Yosomulyo daerah Gambiran sana akhirnya dibantai pemuda Ansornya,” imbuhnya.

Selama tiga hari, jenazah para korban baru diambil oleh aparat militer. Hingga saat ini, kata Supingi, tidak ada orang yang tahu daftar nama-nama para korban.

"Enggak tahu dibawa ke mana, mungkin ke Muncar. Siapapun gak ada yang tahu nama-namanya. Sampai sekarang gak ada yang berani ngomong kalau ada keluarga yang dibunuh di sini, mungkin sampai sekarang juga,” katanya.

Pembangunan monumen Lubang Buaya Cemetuk merupakan hasil swadaya dari masyarakat. “Dulunya itu kan ada bantuan dari pemerintah Rp 15 juta tahun 1994 tapi gak jadi turun, akhirnya cari dana swadaya masyarakat,” lanjutnya.

Bila ingin berkunjung ke Monumen Lubang Buaya Cemetuk, wisatawan religi bisa mengamati secara langsung bagaimana peristiwa kelam 1965 dalam ilustrasi relief. Terlepas siapa yang menjadi pelaku dan korban tentunya dari monumen Lubang Buaya Cemetuk bisa jadi refleksi. Jangan sampai peristiwa kelam tersebut kembali terulang lagi di bumi Pertiwi. (Mdk)

×
Berita Terbaru Update