-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kota Wina Giliran Dicekam Teror, 2 Tewas: Buntut Kontroversi 'Teror Kata-kata' Macron?

Tuesday, November 3, 2020 | 9:58 AM WIB Last Updated 2020-11-03T02:58:58Z
Aparat keamanan menjaga ketat Kota Wina (Reuters)


WINA (DutaJatim.com) - Aksi kekerasan pasca-tragedi di Prancis semakin meningkat. Apalagi setelah gelombang aksi demonstrasi menghujat pernyataan Presiden Prancis  Emmanuel Macron soal kartun Nabi meluas ke sejumlah negara. Muslim di Indonesia juga menggelar aksi demonstrasi memprotes Macron. Bahkan Presiden Jokowi juga ikut mengkritik Macron.


Aksi kekerasan terbaru terjadi di Kota Wina Austria. Setidaknya 2 orang tewas dan beberapa orang lain mengalami cedera-- sebagian cedera berat-- setelah sejumlah pria bersenjata melepaskan tembakan di enam lokasi berbeda di Ibu Kota Austria itu.


Lalu apakah ada kaitan antara tragedi di Prancis dengan di Kota Wina? "Bisa saja, sebab selama ini kasus teroris sudah mengglobal meski dilakukan orang lokal dampaknya bisa ke negara lain," kata ustad Solahuddin al Ayyubi, saat ditemui di Surabaya, Selasa 3 November 2020.   


Tragedi kekerasan di Prancis, kata dia, memang sangat memilukan, umat Islam juga prihatin, mereka ikut berbelasungkawa atas korban yang terjadi di sana. Tapi apa yang dikatakan Macron sama saja, dia meneror muslim dengan kata-katanya yang sangat menggelegar itu. 


"Dia (Macron) lupa ada rakyatnya yang muslim dan jumlahnya banyak, mereka harus dilindungi. Kini akibat teror kata-kata Macron, umat Islam di Prancis dibenci orang. Islamofobia bangkit lagi di sana. nyawa mereka bisa terancam," katanya, tegas.


Kekerasan berkedok agama dikhawatirkan semakin meningkat. Kanselir Austria, Sebastian Kurz, menyebut rangkaian insiden tersebut sebagai "serangan teror menjijikkan". Kurz mengatakan seorang pelaku penyerangan telah tewas ditembak aparat keamanan setempat.


Wali Kota Wina, Michael Ludwig, mengatakan sebanyak 15 orang terluka, tujuh di antara mereka mengalami luka serius. Beberapa korban merupakan petugas kepolisian.

Polisi mengatakan sejumlah orang bersenjata api melancarkan serangan di enam lokasi berbeda. Salah satu lokasi penembakan berada dekat sinagoga, tapi belum jelas apakah tempat ibadah orang Yahudi itu menjadi sasaran serangan. Kepolisian telah menutup sebuah area yang luas di kota dalam upaya pencarian pelaku penembakan. 


Peristiwa ini terjadi beberapa jam sebelum Austria memberlakukan aturan nasional guna menghentikan penularan virus Corona. Banyak warga tengah bersenang-senang di restoran dan bar sebelum tempat-tempat itu tutup hingga akhir November 2020.


Sejumlah pemimpin di Eropa mengecam penembakan tersebut. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan dirinya "sangat tersentak oleh serangan-serangan mengerikan ini".


Kepolisian mengatakan insiden dimulai dekat Sinagoga Seitenstettengasse, tempat ibadah utama umat Yahudi di Wina. Pemimpin Komunitas Yahudi, Oskar Deutsch, mengunggah cuitan bahwa sinagoga sudah ditutup saat serangan terjadi pukul 20:00 malam waktu setempat.


Operasi besar polisi sedang berlangsung di Wina menyusul serangan yang terjadi pada Senin malam itu. Korban luka mencakup seorang petugas keamanan yang menjaga sinagoga, demikian dilaporkan surat kabar Kronen Zeitung.


Sebuah tayangan video yang diunggah di media sosial menunjukkan orang-orang berlarian di jalanan saat suara tembakan meletus.  Seorang saksi mata bernama Chris Zao mengaku dirinya berada di sebuah restoran dekat lokasi penembakan.


"Kami mendengar bunyi bising seperti petasan. Kami mendengar sekitar 20 hingga 30 kali dan kami pikir itu suara tembakan sungguhan. Kami melihat sejumlah ambulans...berjajar. Ada beberapa korban. Sedihnya, kami juga melihat sesosok tubuh terbaring di jalan," kata Zhao kepada BBC, seperti dikutip dari detik.com Selasa 3 November 2020.


Saat operasi anti-teror besar mulai beraksi, polisi mendesak orang-orang untuk menghindari area tersebut dan tidak menggunakan transportasi publik. Penghalang jalan dipasang di sekitar pusat kota.


Kepolisian di Republik Ceko yang bertetangga dengan Austria mengatakan mereka melakukan pemeriksaan secara acak di perbatasan wilayah Austria di tengah kekhawatiran para pelaku penembakan akan melintasi negara.


Reaksi Eropa


Lalu seperti apa reaksi dari para pemimpin di Eropa? Mengutip BBC, detik.com menyebutkan di Twitter, Kurz mengatakan, "kami mengalami masa yang sulit di republik kami".


"Polisi kami akan bertindak tegas terhadap pelaku serangan teroris yang mengerikan ini. Kami tidak akan pernah membiarkan diri kami diintimidasi oleh terorisme," katanya.


Para pemimpin Eropa mengutuk keras serangan ini. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Eropa tidak boleh "menyerah" dalam menghadapi serangan-serangan. "Kami rakyat Prancis berbagi keterkejutan dan kesedihan dengan rakyat Austria, malam ini, dengan sebuah serangan di pusat kota, Wina. Setelah Prancis, teman kita juga diserang. Ini adalah Eropa kita. Musuh kita harus tahu siapa yang sedang mereka hadapi," katanya.


Sebelumnya, tiga orang tewas dalam sebuah serangan dengan pisau di sebuah gereja di kota Nice, Prancis, pekan lalu yang disebut Macron sebagai "serangan teroris Islamis". 


Sebutan Macron ini membuat umat Islam se-dunia marah sebab menggeneralisasi Islam yang dinilai identik dengan teroris.


Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson juga mengunggah cuitan dukungan untuk warga Wina. Ia mengatakan "sangat terkejut dengan serangan yang mengerikan".


"Inggris bersama rakyat Austria - kami bersatu bersamamu untuk melawan teror," katanya. Presiden Dewan Eropa, Charles Michel menyebut ini sebagai tindakan pengecut yang mencederai nilai-nilai dan kehidupan manusia. (det/wis)

×
Berita Terbaru Update