-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tak Bisa Nyetir, Petani Tuban Borong Mobil Mewah

Thursday, February 18, 2021 | 13:09 WIB Last Updated 2021-02-18T06:09:34Z



TUBAN (DutaJatim.com) -  Para petani Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, saat ini menjadi pembicaraan publik nasional. Bukan hanya karena mereka berhubungan dengan mega proyek kilang minyak dan petrokimia Grass Root Refinery (GRR),  tapi juga gegara para petani itu berlaku sebagai orang kaya baru (OKB). Bahkan mereka dijuluki petani miliarder.  


Semua itu gegara para petani ini secara "berjamaah" memborong mobil mewah setelah mendapat ganti rugi miliaran rupiah atas lahan yang dibebaskan untuk proyek kilang minyak milik Pertamina tersebut. Yang menarik, para petani itu ternyata tidak semuanya bisa mengemudi mobil baru tersebut.  


Padahal,  menurut Kepala Desa Sumurgeneng, Gianto, ada 176 mobil baru yang diborong warganya usai mendapat pencairan dana ganti rugi lahan. Satu rumah disebut bisa membeli dua sampai tiga mobil baru. Wow! Lalu untuk apa mobil-mobil itu?


Branch Manager Auto 2000 Tuban, Arie Soerjono,  menceritakan, pihaknya menerima pesanan 130 unit dari para petani miliarder Sumurgeneng sejak April 2020. Mayoritas model yang dipilih adalah Innova dan Fortuner. Hanya sebagian kecil saja memilih Toyota Avanza.


Yang unik, kata Arie, sebagian pembeli mobil itu ternyata tak bisa menyetir, sehingga mobil yang mereka beli dengan bandrol ratusan juta rupiah itu hanya menjadi pajangan sementara di rumah.  "Karena ada sebagian yang belum bisa nyetir, tapi beli mobil untuk dipajang," kata Arie saat dihubungi, Rabu (17/2/2021).


Bahkan, kata dia,  ada juga warga yang sudah rusak mobilnya karena menabrak sesuatu lantaran belum lancar menyetir. Namun mobil yang rusak itu dibawa kembali ke bengkel milik dealer untuk diperbaiki.


"Kadang ada beberapa yang begitu, mereka pakai mobil, tidak sampai seminggu, ada yang kecelakaan. Jadi mobilnya lecetlah, tapi ringan. Tapi untungnya kami ada bengkel body repair, dan karena belinya tunai mereka mau gunakan asuransi. Jadi pas rusak lebih gampang," katanya.


Arie tidak memungkiri warga desa memang paling banyak membeli mobil merek Toyota ketimbang merek lain. Hal itu ada berbagai faktor yang menjadi latar belakangnya. Salah satunya pendekatan dengan cara berbeda yang dilakukan bagian marketing.


Dia memberi contoh saat salah satu tenaga penjual pintar mengaji. Dia  pernah menjadi imam di masjid desa. Dari sana banyak warga yang senang dan kerap memanggil tenaga penjual tersebut untuk kebutuhan acara keluarga seperti saat mengadakan pengajian atau hajatan.


"Warga di daerah sana religius. Jadi sales kami yang qori (pandai membaca Al-Quran) pernah jadi imam, dan warga senang karena bagus dan suka dimintai tolong buat hajatan atau sebagainya. Dan dia diterima di sana, jadi pendekatannya gampang termasuk jual mobil," katanya. (hud/cnni)




×
Berita Terbaru Update