-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Perpres Miras Dicabut, Lalu Siapa yang Mengusulkan?

Tuesday, March 2, 2021 | 6:18 PM WIB Last Updated 2021-03-02T11:18:54Z

 


JAKARTA (DutaJatim.com) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan mencabut beleid yang membuka keran investasi minuman beralkohol atau minuman keras (miras). Jokowi mencabut Lampiran soal investasi miras setelah kebijakannya menuai polemik di masyarakat. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang awalnya mengusulkan agar pintu investasi miras dibuka?


Perlu diketahui dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal, keran investasi miras itu dibuka untuk Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua. Hal ini karena daerah-daerah tersebut sebagian besar warganya non-muslim


Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menjelaskan, hal itu dilakukan atas dasar masukan dari pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat dengan mempertimbangkan kearifan lokal.


 

"Jadi dasar pertimbangannya (investasi miras) itu adalah memerhatikan masukan dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat terhadap kearifan lokal," kata Bahlil dalam konferensi pers virtual, Selasa (2/3/2021).


Bicara mengenai kearifan lokal, dia mencontohkan di NTT, ada yang namanya sopi. Sopi adalah minuman yang didapatkan lewat proses pertanian masyarakat.


"Nah di masyarakat tersebutlah kemudian mereka mengelola, bahkan di sana sebagian kelompok masyarakat itu menjadi tradisi. Tetapi itu kan tidak bisa dimanfaatkan karena dilarang. Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut dan juga bisa diolah untuk produk ekspor maka itu dilakukan," katanya.


Begitu pula di Bali, disebutkan Bahlil, di provinsi tersebut ada arak lokal yang berkualitas ekspor. Untuk itu izin investasi miras dibuka juga untuk Bali.


"Itu akan ekonomis kalau itu dibangun berbentuk industri. Tapi kalau dibangun sedikit-sedikit apalagi itu dilarang maka tidak mempunyai nilai ekonomi. Itulah kemudian kenapa dikatakan bahwa memperhatikan budaya dan kearifan setempat," kata Bahlil.


Dia memahami bahwa kalangan dunia usaha menginginkan agar investasi miras tetap dilanjutkan. Namun, atas pertimbangan berbagai kalangan, sehingga Presiden Jokowi memutuskan untuk tetap menutup pintu investasi miras. Hal itu, kata Bahlil, untuk kepentingan yang lebih besar.


"Saya juga memahami kepada teman-teman dunia usaha yang menginginkan agar (investasi miras) ini tetap dilanjutkan. Kita harus bijak melihat mana kepentingan negara yang lebih besar. Apalagi kita semua umat beragama dan sudah barang tentu tahu ajaran kita untuk kebaikan," kata Bahlil. (det/wis)

×
Berita Terbaru Update