-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

MANCING DI LAUT, MENEMUKAN TUHAN

Sunday, April 18, 2021 | 08:58 WIB Last Updated 2021-04-18T01:58:21Z

 


Oleh Imung Mulyanto

HOBI yang satu ini, sangat sulit saya tinggalkan. Padahal hobi ini sungguh menguras energi dan membutuhkan ketahanan tubuh prima. 

Bayangkan saja,  seharian di tengah laut, di atas kapal, disengat terik matahari atau guyuran hujan, diombang-ambing gelombang dan angin. Belum lagi kalau ketemu ombak besar dan badai. 

Tak salah kalau keluarga selalu waswas setiap saya pamit hendak  memancing. Mereka tak bosan selalu mengingatkan kalau usia saya sudah tak muda lagi dan kesehatan saya sudah tak seprima dulu lagi. Apalagi pasca operasi pengangkatan kantung dan  batu empedu. 

Saya sadari, endurance tubuh saya memang sudah tidak setangguh dulu lagi. Tapi apa hendak dikata, saya pilih nekad. Karena bagi saya, mancing di laut adalah hidup "mewah" saya. Inilah "kemewahan"  hidup saya yang tinggal sedikit di samping catur, tanaman hias, kopi, dan A Mild. Hobi itu, sering mengundang olok-olok teman. 


A Mild, katanya mengundang penyakit. "Wong penyakit kok diundang he..he..," seloroh saya.

 "Hanya orang sehat yang bisa merokok. Orang sakit gak bisa dan gak boleh," sambung saya ala Kartoloan he..he..

Kopi juga. Banyak kawan-kawan yang mandeg ngopi. Tentu karena dilarang dokter. 

"Wong kayu kok dipikir," olok teman tentang hobi saya bermain catur. 

Ngopeni tanaman hias, katanya kerjaan orang nganggur, menyita waktu, menguras dompet dan korban mafia bunga.




Baiklah, di lain kesempatan saya akan tulis tentang rokok, kopi, catur, dan tanaman hias.

Kali ini saya khusus ngomongin hobi mancing di laut saja. Kawan-kawan saya selalu mengolok dengan kalimat, "mancing itu kerjaan orang yang ndak kepingin maju." Benar sekali itu. Apalagi mancing di laut. Kalau maju pastilah kecemplung di laut. Bisa koit tenggelam dan dimangsa hiu. 

Kawan, ini serius. Dari hobi mancing justru saya belajar tentang filosofi mundur. Lha...kok mundur? Bro dan sist,  sesekali mundur itu dibutuhkan dalam hidup kalau dirasa untuk maju sudah mentok. Daripada benjut kepentok-pentok, sesekali mundurlah untuk bisa mengambil ancang-ancang baru. Dengan mundur sedikit  kita jadi punya pilihan baru. 


Terus menerjang, melompat, atau mengambil jalan lain yang lebih memungkinkan. Dalam mancing di laut, mundur itu justru sedang menarik hasil. Artinya umpan kita disambar mangsa yang sudah dengan sabar kita nantikan.

Sabar. Kesabaran. Itulah kunci orang mancing. Menunggu. Menanti. Memang ini sesuatu yang sulit dilakukan. Tetapi tanpa kita sadari, mancing sungguh melatih kita belajar tentang kesabaran. Tidak srudak-sruduk. Tidak reaktif.

Dan ini yang paling penting. Dalam sabar kita didorong untuk mengingat dan dekat kepada "sing ngecet lombok," kepada Yang Maha Kuasa. Bawah sadar pemancing selalu mengingat pentingnya doa. Coba perhatikan, meski pemancing itu seorang bajingan tengik atau penjahat ulung sekalipun, pas dia memancing pasti dia akan mengingat Tuhan. Berdoa. Tentu Tuhan ala dia dan doa ala dia. Itu kajian sosiologisnya. 




Dan dari kajian empiriknya, saya berani bertaruh setiap pemancing pasti berdoa mengharapkan umpannya disambar ikan mangsanya. Rasanya muskil ada orang mancing berdoa agar tidak mendapatkan ikan. Meski faktanya, bisa jadi boncos alias zonk alias pulang dengan tangan kosong.

Belum lagi saat ombak besar dan  badai datang. Dengan serta merta pemancing akan melafalkan aneka doa. Sebisanya. Semampunya. Seingatnya. 

Tiba-tiba pemancing  seperti diingatkan bahwa dirinya sungguh sangat kecil. Nothing. Bukan apa apa. Bukan siapa siapa. Tiba-tiba pemancing sungguh membutuhkan pertolongan Tuhan. Pengin dekat Tuhan. Pengin disayang Tuhan.. ..

#salam strike.
#salam persaudaraan buat kawan kawan sehobi.
#ilustrasi foto saat mancing bersama anak-anak dan kawan kawan tercinta.



×
Berita Terbaru Update