-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Para Tokoh dan DPR Rame-rame Dukung Vaksin Nusantara, tapi Mengapa 'Ditolak' BPOM?

Wednesday, April 14, 2021 | 13:44 WIB Last Updated 2021-04-14T06:44:36Z

 

dr Terawan Agus Putranto (suara.com)


JAKARTA (DutaJatim.com) - Kontroversi Vaksin Nusantara--vaksin COVID-19 berbasis sel dendritik yang digagas oleh mantan Menteri Kesehatan dr Terawan Agus Putranto--berlanjut. Saat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tak memberi izin uji klinis tahap selanjutnya lantaran dinilai tidak memenuhi standar mutu bahan dan produksi dalam evaluasi uji klinis fase pertama, sejumlah tokoh justru mendukunnya. Bahkan sejumlah anggota Komisi IX DPR RI mendatangi  RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (14/4/2021), untuk diambil sampel darahnya kemudian disuntikkan lagi kepada yang bersangkutan. 

Bukan hanya anggota DPR, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) juga sudah menjalani proses vaksin Nusantara tersebut. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan anggota Komisi IX DPR RI bukan disuntik vaksin Nusantara di RSPAD.  Yang benar, kata dia, sejumlah pimpinan DPR, termasuk dirinya, baru akan mengambil sampel darah di RSPAD.

"Kita bukan menyuntik vaksin, tapi mengambil sampel darah yang kemudian akan diolah dengan sistem dendritic cell. Nanti baru dimasukkan lagi setelah 7 hari ke dalam tubuh, untuk kemudian apa yang dimasukkan itu mengajarkan sel darah kita yang lain untuk melawan apabila ada virus yang masuk, termasuk virus COVID-19 dari berbagai varian," kata Dasco, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (14/4/2021).

Pengambilan sampel yang dilakukan oleh sejumlah anggota DPR serta tokoh lain ini untuk melanjutkan vaksin Nusantara ke fase II. Dia yakin proses ini akan berhasil.

 "Kenapa ini kemudian saya lakukan, karena saya percaya bahwa vaksin personalize dengan sistem dendritic cell ini juga secara teorinya memang masuk akal dan sudah ada fase satu yang kemudian berhasil dan tidak ada efek samping dan lain-lain.  Saya sangat mendukung, apalagi saya sudah pernah mendapatkan perbaikan sistem sel yang kurang-lebih cara kerjanya sama di RSPAD," katanya.

Dasco mendukung penuh kelanjutan tahap II vaksin Nusantara. Apalagi, menurutnya, di tengah adanya embargo vaksin dari luar negeri. Dia berharap, dengan dilanjutkannya vaksin Nusantara ini, proses vaksinasi di Indonesia tidak akan terhambat.

"Dan sebagai seorang yang mendukung vaksin Nusantara tentunya saya harus konsisten juga sebagai pemimpin tidak hanya kemudian bersuara, tapi juga memberikan contoh dalam uji coba fase dua ini. Apalagi kemudian vaksin yang kita datangkan dari luar mengalami embargo dari negara pembuat, sehingga proses vaksinasi kalau kita mengandalkan vaksin luar akan terhambat," ujarnya.

Jadi, lanjut Dasco, tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi terkait vaksin Nusantara. Dia berharap vaksin Nusantara dapat dilanjutkan hingga selesai uji klinis. Produk anak bangsa berkolaborasi dengan lembaga di Amerika Serikat, sudah terakreditasi.  Ini hasil kerja sama RSPAD dan RS Kariadi Semarang, sehingga perlu mendapat dukungan. 

"Apalagi banyak pilihan vaksin akan semakin baik, toh vaksin dari luar negeri juga banyak pilihan, ada yang masuk melalui pemerintah atau mandiri itu tanpa melalui uji klinis hanya fase III, seperti Sinovac, dan tidak perlu diperdebatkan. Dan ini juga termasuk Vaksin Nusantara personalize juga saya pikir tidak perlu diperdebatkan," kata Dasco.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Melki Laka Lena sebelumnya menyebut para anggota DPR menjalani vaksinasi Nusantara.  Hal itu dilakukan secara pribadi. "Bagi yang memenuhi syarat uji klinis, masuk data uji klinis. Bagi yang tidak memenuhi syarat uji klinis masuk untuk pengobatan diri sendiri," katanya.

Ical juga sudah mendapat suntikan vaksin nusantara. Juru bicara Ical, Lalu Mara Satria Wangsa, mengatakan, Ical mendapat suntikan vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto. Selain karena percaya pada kemampuan dr Terawan, Ical disuntik juga sebagai bentuk dukungan terhadap riset 'kontroversial' tersebut.

"Beliau bukan saja mendukung tapi juga mendoakan Vaksin Nusantara sukses. Ini kan sesuai dengan permintaan Bapak Presiden agar kita mencintai produk dalam negeri," kata Lalu.

Gatot Nurmantyo juga menunjukkan dukungannya terhadap vaksin Nusantara. Ia menyediakan diri 'disuntik' vaksin Corona di RSPAD Gatot Soebroto. "Saya lahir di sini, makan di sini, minum di sini, diberi ilmu di sini, dan dididik sebagai seorang prajurit di bumi pertiwi," kata Gatot kepada wartawan, Rabu (14/4/2021).

"Kemudian ada hasil karya putra Indonesia yang terbaik, kemudian uji klinik, kenapa tidak saya? Apapun saya lakukan untuk bangsa dan negara ini," tegas Gatot soal alasannya ikut menggunakan vaksin Nusantara.

Sebelum menjalani vaksinasi, tahap pertama peserta melakukan pengambilan darah untuk kemudian disuntikkan lagi setelah diproses. 

"Belum disuntik, diambil darahnya dulu," kata Gatot.

Uji klinis vaksin nusantara saat ini terhenti di fase 1 dan belum mendapat lampu hijau dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk lanjut ke fase berikutnya. 

 "Tidak ada izin uji klinik fase II yang dikeluarkan oleh BPOM untuk vaksin Nusantara," tegas juru bicara vaksinasi COVID-19 Lucia Rizka Andalusia, dikutip dari CNN Indonesia Rabu (14/4/2021).

Peneliti Asing

Vaksin Nusantara ramai diperbicangkan karena disebut-sebut sebagai vaksin COVID-19 karya anak bangsa yang menggunakan platform tak biasa yaitu sel dendritik. Vaksin ini digagas oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Namun, vaksin Nusantara pada akhirnya tidak mendapat izin untuk melanjutkan uji klinis oleh BPOM RI karena vaksin ini tidak memenuhi standar mutu bahan dan produksi dalam evaluasi uji klinis fase pertama.

"Badan POM akan menegakkan aturan-aturan yang ada tanpa pandang bulu, apakah itu vaksin dalam negeri atau vaksin luar negeri. Tujuannya tentu satu melindungi siapapun yang terlibat, terutama masyarakat yang dilibatkan," kata Kepala BPOM Penny K Lukito dalam rapat bersama Komisi IX DPR RI, Kamis (8/4/2021).

Riset vaksin Nusantara menjadi polemik ketika sebagian pihak menuding sengaja 'dijegal'. Beredar pendapat bahwa seharusnya riset vaksin Nusantara didukung karena merupakan karya anak bangsa. 

Namun Penny ingin mempertegas seperti apa kriteria vaksin yang bisa disebut karya anak bangsa. Dia menjelaskan bahwa vaksin Nusantara sebenarnya menggunakan bahan-bahan impor dan lebih banyak dikembangkan oleh tim peneliti asing.

"Apakah ini kita sebut vaksin karya anak bangsa atau bukan? Karena pertama komposisi dari darah yang diambil, kemudian mendapatkan sel dendritik, kemudian ditambahkan antigen growth factor, komponen-komponennya adalah produk impor yang mahal. Kedua siapa yang meneliti? Dalam uji klinis fase 1 ini pembahasannya tim peneliti asinglah yang menjelaskan, membela, dan berdiskusi pada saat kita hearing tersebut. Terbukti dari proses pelaksanaan uji klinis, produksinya, semua dilaksanakan oleh tim peneliti asing dari AIVITA," katanya.

Penny mengatakan memang ada peneliti dari Indonesia yang tergabung di dalam tim. Namun, para peneliti tersebut tidak terlibat secara aktif mengembangkan vaksin Nusantara. "Mereka cuma menonton, tidak melakukan langsung. Dalam pertanyaan dijelaskan bahwa mereka tidak menguasai," katanya. (det, nas)
×
Berita Terbaru Update