-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bupati Nganjuk Ditangkap KPK: PKB, PDIP, dan Banser Bantah Novi Kadernya

Monday, May 10, 2021 | 14:29 WIB Last Updated 2021-05-10T07:29:39Z

NGANJUK (DutaJatim.com) - Inilah nasib tersangka kasus korupsi. Apalagi kena operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain sudah ditangkap dan ditahan, tersangka korupsi seringkali juga dikucilkan. Ada yang ditinggalkan teman, ditinggal keluarga, atau tidak diakui oleh partai atau ormas yang menaunginya.


Hal itu sekarang dialami Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat dan empat camat anak buahnya yang ditangkap Tim Satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Senin 10 Mei 2021 dini hari.


Sejumlah sumber yang terpercaya mengatakan, empat camat tersebut merupakan orang dekat Novi.  Bupati Nganjuk dan para anak buahnya itu terjaring OTT KPK diduga terkait jual beli jabatan di lingkungan Pemkab Nganjuk.  


Usai OTT, Bareskrim Mabes Polri Direktorat Tindak Pidana Korupsi menyegel 3 ruangan di lingkup Pemkab Nganjuk. Tiga ruangan itu di Sub Bidang Mutasi Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Ruangan itu berada di lantai dua yang juga di lingkup Kantor Bupati Novi.


Selain OTT-nya sendiri, saat ini terjadi polemik Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat di bawah naungan partai atau ormas apa? Sempat disebut Novi Rahman menjabat Wakil Ketua DPW PKB Jatim. Namun, Sekretaris DPW PKB Jatim Anik Maslachah membantah bahwa Novi adalah kader partainya. Anik menyebut, Novi merupakan kader PDI Perjuangan (PDIP).


Sekretaris Gerakan Sosial dan Kebencanaan DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Luqman Hakim, juga mengatakan bahwa Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat yang terkena OTT KPK bukan kader partainya.  Luqman mengklarifikasi informasi yang menyebut Novi sebagai kader PKB. 


"Saya mohon keberadaan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat tidak dikait-kaitkan dengan PKB," kata Luqman kepada wartawan, Senin, 10 Mei 2021.


Luqman menyertakan sebuah tautan video di kanal Youtube yang berisi pengakuan Novi Rahman sebagai kader partai politik lain. "Partai politik tersebut bukan PKB," katanya.


Wakil Ketua Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat ini juga mengatakan PKB menghormati langkah hukum yang dilakukan KPK, baik langkah penindakan maupun pencegahan.  Dalam video yang diunggah MaduTV pada 3 Maret lalu itu, Novi menyebut dirinya kader PDI Perjuangan. Novi ketika itu hadir dalam Muscamcab PAC PDI Perjuangan se-Kabupaten Nganjuk.


Sebelumnya saat maju sebagai calon bupati di Pilkada Nganjuk 2018, Novi diusung oleh PKB, PDIP, dan Partai Hanura. Dia berpasangan dengan Marhaen Djumadi yang merupakan kader PDI Perjuangan. Adapun di situs wikipedia, Novi Rahman Hidayat memang disebut sebagai politikus yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPW PKB Jawa Timur periode 2021-2026. Informasi serupa pernah ditulis oleh akun Facebook Info Nganjuk pada 10 April 2021.


Sebelumnya KPK OTT di Kabupaten Nganjuk dilakukan pada Senin pagi. Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron membenarkan adanya OTT di Kabupaten Nganjuk. Ia mengatakan KPK masih memeriksa dan mendalami operasi senyap tersebut.


Seorang sumber mengatakan OTT yang menyeret Bupati Nganjuk ini berhubungan dengan jual beli jabatan di lingkungan Nganjuk. "Soal lelang jabatan camat dan pengisian perangkat desa (carik)," kata sumber ini pada Senin, 10 Mei 2021.


Yang menarik DPD PDIP Jatim juga membantah bahwa Novi adalah kadernya. Wakil Ketua DPD PDIP Jatim Deni Wicaksono mengatakan bahwa Bupati Novi telah diakui sebagai pengurus DPW PKB Jatim usai Musyawarah Wilayah PKB Jatim yang berlangsung pada 9 Januari 2021.  Bahkan, Novi diumumkan oleh Sekretaris PKB Jatim Anik Maslachah sebagai wakil ketua DPW PKB Jatim Periode 2021-2026.


"Waktu itu kita baca beritanya yang sangat luas di media bahwa Pak Novi masuk kepengurusan PKB Jatim. Oh ya sudahlah, itu pilihan politik beliau, meskipun pada waktu Pilkada Nganjuk 2018, Pak Novi diusung bersama oleh PKB, PDI Perjuangan, dan Hanura. Tapi kalau memang Pak Novi memilih PKB dan itu sudah diumumkan resmi oleh Sekretaris PKB Jatim Bu Anik Maslachah, ya monggo," ujar Deni Wicaksono dalam keterangannya yang diterima wartawan  Senin (10/5/2021).


Deni menegaskan Novi sudah dinyatakan masuk kepengurusan PKB. Dirinya menyayangkan adanya statement bahwa Novi adalah kader PDIP saat Bupati Nganjuk tersebut tersandung kasus korupsi. Anggota DPRD Jatim ini menyebut PDIP tidak pernah berebut kader dan tidak pernah mengklaim kader.


"PDIP tidak pernah menyatakan Pak Novi sebagai kader pengurus partai. Kan PKB sudah mengumumkan sejak Januari 2021 bahwa Pak Novi adalah wakil ketua DPW PKB Jatim. Ketika partai lain sudah memasukkan seseorang itu sebagai pengurus, ya tentu tidak mungkin masuk ke PDIP," ujarnya.


Deni juga meminta publik untuk mengecek di laman Wikipedia tentang profil Novi, di mana jelas disebutkan bahwa Novi adalah pengurus DPW PKB Jatim.  "Sudah beredar luas di berita, diumumkan oleh sekretaris DPW PKB Jatim sendiri seusai Muswil PKB Januari 2021, dan bahkan sudah ada di Wikipedia. Sekarang giliran Pak Novi sedang ada masalah, kok tidak diakui. Jejak digital tidak bisa bohong," bebernya.


Nama Novi pun mendadak ramai diperbincangkan di media sosial Twitter. Dia disebut-sebut sebagai anggota Barisan Ansor Serbaguna alias Banser. Banser pun jadi trending di Twitter hingga pukul 13.55 WIB pada Senin siang, 10 Mei 2021.  Namun Banser membantahnya.


Wasatkorwas Banser Hasan Basri membantah Novi merupakan anggota maupun kader Banser. "Bukan anggota dan kader," kata Hasan saat dihubungi, Senin, 10 Mei 2021.


Sebelumnya, netizen ramai mengaitkan Bupati Nganjuk Novi Rahman sebagai anggota Banser. Akun Twitter @MeghanReborn bahkan sampai mengunggah foto Novi Rahman yang sedang memakai seragam loreng-loreng khas Banser.


"Saya Indonesia..Saya Pancasila..Saya Banser.. Saya Ditangkap KPK..," cuit @MeghanReborn, Senin, 10 Mei 2021 memberi keterangan dalam foto Novi yang diunggahnya. 


Ada pula akun milik akun @maspiyuaja yang menyebut gamblang bahwa Bupati Nganjuk yang kena OTT KPK adalah Anggota Banser. Akun tersebut sambil menyertakan link sebuah portal berita dan tangkapan layar sebagai rujukan Novi disebut kader Banser. 


Namun, bisa jadi Novi hanya hadir dalam sebuah acara yang digelar Banser mengingat posisinya sebagai Bupati Nganjuk yang sering menghadiri undangan dari ormas atau yang lain. "Ya, saat itu bisa saja beliau pakai seragam Banser," kata Sahroni, warga NU Nganjuk.(vvn/wis/det)

×
Berita Terbaru Update