-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dialog Muslim-Yahudi & Isu Palestina (1)

Monday, May 31, 2021 | 05:10 WIB Last Updated 2021-05-30T22:10:23Z

 


Oleh Imam Shamsi Ali* 

SEJUJURNYA setiap kali terjadi ketegangan dan kekerasan di Timur Tengah, secara langsung atau tidak, berdampak secara pribadi maupun secara komunal kepada kami, khususnya dalam konteks perjuangan Dakwah kami di bumi Amerika. 

Betapa tidak, saya adalah seorang Muslim, yang insya Allah termasuk salah seorang yang dipilih Allah untuk memperjuangkan agama dan Umat di kota ini. Kota New York memang dikenal sebagai jantung kapitalisme dunia, sekaligus kota dengan penduduk Yahudi terkuat di dunia. Konon kabarnya Yahudi New Yorklah yang membesarkan kota Tel Aviv. 

Tapi lebih khusus lagi karena saya memang dikenal sebagai salah seorang yang ada di garda terdepan dalam Membangun dialog (komunikasi) dengan tokoh-tokoh dan masyarakat Yahudi di US. 

Kami merintis pertemuan tingkat tinggi (summit) Imams & Rabbis di tahun 2006 lalu, yang menghasilkan banyak program kerjasama antara Yahudi dan Muslim di US. Satu di antaranya adalah bersama-sama bergandeng tangan memerangi Islamophobia dan Antisemitisme yang keduanya sama-sama meninggi di Amerika.

Bahkan di tahun 2013 lalu saya dengan seorang pendeta Yahudi menulis bersama sebuah buku dengan judul: Anak-Anak Ibrahim: isu-isu yang menyatukan dan memisahkan Yahudi dan Islam. Buku itu telah diterjemahkan oleh Mizan ke dalam bahasa Indonesia di tahun 2015 lalu. Di tahun itu juga saya mengajak Rabbi Marc Schneier (co-author) keliing ke beberapa kota di Indonesia untuk bedah buku. 

Pasca terbukanya hubungan diplomasi antara beberapa negara Arab dan Israel buku itu sedang dalam proses diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Arab, Rusia dan Prancis. Bahkan buku kami menjadi salah satu atau buku yang tampil di Pameran buku Dubai tahun 2021 ini. 

Sebagai warga Indonesia, terlahir di negara Muslim terbesar dunia, sekolah di pesantren, kemudian lanjut kuliah di Pakistan di saat perang Afghanistan masih bergejolak, tentu mindset (Wawasan) yang terbangun jelas ikut terperangkap dalam teori konspirasi bahwa Barat adalah musuh Islam dan Umat. Apalagi belakangan hari sempat menjadi guru di kota Jeddah, Saudi Arabia. Pandangan tentang Barat sebagai antitesis dari Islam dan lawan Umat semakin tajam.

Ternyata Allah berkehendak lain. Allah punya rencana yang pada galibnya di luar dari rencana dan pengetahuan kemanusiaan kita. Di penghujung tahun 1996 saya ditakdirkan mendarat di kota New York. Sesuatu yang awalnya cukup mengkhawatirkan bahkan menumbuhkan berbagai kecurigaan di benak saya saat itu. 

Proses rencana Allah terus berlanjut. Tiba-tiba saja terjadi serangan terror ke kota New York di bukan September 2001 atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Nine Eleven. Dengan segala dampak negatif dari peristiwa itu, Allah  menghadirkan ragam “blessings in disguise” (hikmah-hikmah) darinya. Salah satunya terbuka pintu-pintu dialog dan komunikasi antar kelompok masyarakat, khususnya antar agama, di kota New York bahkan di Amerika. 

Beberapa hari pasca 9/11 itulah saya kembali diminta oleh kantor Walikota New York untuk mewakili komunitas Muslim dalam perhelatan besar yang disebut “National Prayer for America” di Yankee Stadium. Di sanalah saya mulai berinteraksi dengan tokoh-tokoh agama di Amerika, termasuk tokoh-tokoh Yahudi. 

Saya teringat ketika berada di holding room (ruang tunggu) sebelum masuk lapangan Yankee (lapangan Baseball NY). Saya yang belum mengenal siapa-siapa tiba-tiba didatangi dan disapa oleh seorang pendeta Yahudi dengan ramah. 

“Are you Indonesian?”, tanyanya sambil menyalami tangan saya. 
“Yes I am”, Jawab saya singkat. 
“Oh, I like Indonesia”, katanya lagi.
“Why do you like Indonesia?” tanya saya. 

Saya menanyakan itu karena sepengetahuan saya orang Yahudi di Indonesia ketika itu memang dianggap asing, bahkan pada tataran tertentu dianggap musuh. Dan seringkali tanpa mengetahui penyebabnya. Hanya karena Yahudi sehingga dengan sendirinya tumbuh stigma mereka adalah musuh Islam. 

Sang Rabbi itu tersenyum dan menjawab: “because I have a friend in Indonesia. His name is Gus Dur”.

Saya kemudian menyampaikan terima kasih bahwa dia telah simpati kepada Indonesia. Apalagi ketika itu memang teman beliau itu lagi menduduki orang terpenting di negeri kita, Presiden Abdurrahman Wahid. Saya hanya mengatakan kepada Rabbi itu: “thank you for your friendship”. 
 
Belakangan baru saya tahu jika Rabbi yang ramah itu adalah seorang Rabbi senior di kota New York. Namanya Rabbi Arthur Schneier, Senor Rabbi di East Park Synagogue, sebuah rumah ibadah Yahudi yang historik dan terkenal. Bahkan beberapa waktu kemudian saya diundang hadir dalam acara Dialog sekaligus diminta berbicara mengenai Islam di Indonesia. 

Rabbi Arthur inilah yang belakangan pernah memberikan penghargaan kepada Presiden SBY. Bahkan di acara penganugeraan penghargaan itu saya secara khusus diminta membacakan doa pembukaan.

Setelah lama saya menjadi partner Dialog Marc Shcneier (yang menulis Buku bersama saya) di atas baru saya sadar kalau Marc ini adalah Putra dari Rabbi Arthur Schneier tadi. Marc sendiri tidak pernah mengenalkan diri sebagai Putra dari Rabbi Senior, teman Gus Dur itu. 

Dalam perjalanannya saya semakin banyak dikenal oleh tokoh-tokoh Yahudi. Apalagi ketika itu saya menjadi salah seorang Imam di Islamic Center New York. Bahkan ketika saya Imam di Islamic Center itu salah satu prioritàs saya adalah memang membangun hubungan antar Komunitas agama, termasuk dengan Yahudi sebagai Komunitas kuat di kota New York. (Bersambung)


New York, 30 Mei 2021 

* Diaspora Indonesia & Imam di kota New York.
×
Berita Terbaru Update