-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Dialog Muslim-Yahudi & Isu Palestina (2)

Monday, May 31, 2021 | 05:15 WIB Last Updated 2021-05-30T22:15:00Z

 


Oleh Imam Shamsi Ali* 

ADA tiga insitusi Yahudi terbesar di kota New York. Ada Yashiva University, sebuah universitas yang beraliran Orthodox. Lalu Jewish Theological Seminary, sebuah universitas yang beraliran Konservatif. Dan satu lagi, Hebrew Union College, sebuah perguruan tinggi Yahudi beraliran Reform. 

Di JTS (Jewish Theological Seminary) itu saya merupakan Muslim pertama diundang untuk memberikan presentasi Islam. Tokoh Kristen pertama adalah Desmon Tutu dari Afrika Selatan. Belakangan bahkan JTS dan Islamic Center bekerjasama dalam sebuah program yang dinamai “Midnight Run”. Sebuah program bersama memberikan makanan kepada homeless di kota New York. 

Belakangan melalui Tanenbaum Center, juga sebuah organisasi Yahudi besar yang bergerak di bidang pendidikan saya menjalin kerjasama dengan Hebrew Union College dalam sebuah program “Face to Face”. Program ini adalah kajian Kitab Suci dengan tema-tema pilihan. Satu di antaranya kita pernah membahas tentang “Yusuf and Joseph”. Nabi Yusuf menurut Islam dan Prophet Joseph menurut Taurat. 

Belakangan bahkan saya diminta menjadi salah seorang anggota Religious Advisory Board di Tanenbaum ini. Bahkan tidak jarang diminta menjadi narasumber ketika mereka mengadakan acara seminar atau diksusi yang bertujuan mengedukasi warga Amerika tentang agama Islam. 

Di kedua insitusi itu, JTS dan Tanenbaum Center, di kemudian hari saya pernah menghadirkan tokoh-tokoh Muslim Indonesia, termasuk Prof Din Syamsuddin dan KH Hasyim Muzadi. Mereka hadir untuk mengenalkan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dunia.

Selain itu saya juga melakukan Dialog dengan banyak tokoh Yahudi lainnya. Rabbi Peter RubinStein, senior Rabbi di Central Synagogue, sinagog Yahudi Sekte Reform tertua dan terbesar di kota New York. Saya, Rabbi Rubinstein dan seorang pendeta Kristen berpengaruh dan sangat senior, Pastor Arthur Caliandro, mengadakan Dialog tahunan (Annual Trialogue) dalam acara tahunan Thanksgiving. 

Dari masa ke masa hubungan antar agama, termasuk dengan Yahudi terasa semakin baik. Komunikasi dan relasi kami pun semakin luas. Bahkan di tahun 2007 saya diundang secara khusus hadir dalam sebuah pertemuan Yahudi-Muslim di kota Seville Spanyol. 

Lalu di tahun 2014 lalu saya dan seorang pendeta Yahudi hadir di parlemen Austria  berbicara tentang “Halal dan Kosher”. Saat itu Uni Eropa berencana melarang apa yang disebut “ritual slaughtering” atau penyembelihan hewan secara agama. Selain dianggap melanggar etika sekularism, juga diasumsikan sebagai penyiksaan kepada hewan. Alhamdulillah kami berhasil meyakinkan bahwa memotong hewan secara suara’ (agama) jauh lebih beretika ketimbang secara umum. 

Demikian perjalanan panjang kerjasama Yahudi dan Muslim di kota New York. Belakangan inisiatif kami dari kota New York bahkan menjadi gerakan global saat itu. Masih ingat bagaimana kami pernah hadir di Singapura mempertemukan masyarakat Yahudi dan Muslim di negara itu sekaligus mempromosikan buku kami, Sons of Abraham. 

Bahkan melakukan perjalanan keliling ke beberapa negara Eropa, termasuk Prancis dan Jerman, untuk mempromosikan Dialog antar agama. Upaya ini sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan antar pemeluk agama-agama di dunia. 

Upaya ini pula yang menjadi alasan sehingga saya terpilih menjadi salah seorang penerima “Ellis Island Honor Award” di tahun 2009. Sebuah penghargaan tertinggi non militer yang diberikan kepada imigran di Amerika Serikat. 

Saya menceritakan ini untuk memberikan pandangan mata yang singkat tentang usaha dan perjalanan juang kita dalam menghadirkan harmoni, kedamaian, bahkan kerjasama di antara manusia. Sebuah perjuangan yang kami lihat tidak saja penting bagi manusia secara umum. Tapi juga secara khusus menjadi jalan yang sangat efektif dalam merubah persepsi orang lain tentang agama ini. 

Saya masih ingat ketika Kongresman Peter King dari Long Island New Yerik, yang saat itu menjabat sebagai Chairman of committee on the DHS di Kongress, ingin mengadakan dengar pendapat (hearing) dengan tema: “Muslim Radicalization in US” di tahun 2017 lalu. Rabbi Mac Schneier, teman saya itulah yang menginisiasi demo besar-besaran di kota New York dengan mengusung tema “Today I am a Muslim too”. 

Lalu di tahun 2019 lalu, ketika Donald Trump ingin melarang orang Islam masuk Amerika, kembali kami melakukan demonstrasi besar-besaran. Demo “today I am a Muslim too II” itu diikuti oleh sekitar 10.000 orang di Time Square kita New York. 

Sayang memang bahwa perjalanan juang panjang itu selalu terinterupsi (terganggu), bahkan terasa ambruk (hancur) dari masa ke masa. Hubungan yang baik, bahkan kerjasama untuk saling membantu menciptakan dunia yang lebih aman dan nyaman, dirusak oleh kekerasan yang terjadi di Timur Tengah. 

Dengan segala wajah tersenyum dalam persahabatan di antara kami, kami merasa ada ganjalan itu. Bahkan kami juga sadar bahwa ada perbedaan mendasar dalam menyikapi konflik Palestina Israel. 

Namun demikian, Dialog dan persahabatan itu walau tidak merubah  posisi dasar kami tentang Palestina dan Israel, terus kami lanjutkan. Karena kami merasa dengan segala “prioritàs” kepada perjuangan bangsa Palestina, juga sadar bahwa ada Isu-isu lain yang bisa dikerjasamakan. Tentunya lebih khusus lagi ketika kami melihat konteks perjuangan Dakwah kami di Amerika.

Bagi teman-teman Yahudi (mayoritasnya), Israel adalah rumah bersama mereka yang harus dijaga. Dan bagi kami Umat Islam, Palestina dan Al-Quds adalah bagian dari belahan jiwa kami. Dan karenanya pada akhirnya kita sepakat: “we agree to disagree without being disagreeable” (sepakat untuk tidak sepakat tanpa harus bermusuhan). 

Dunia memang lebih besar dan permasalahannya juga jauh lebih banyak  dan kompleks. Semoga suatu ketika Palestina mendapatkan kemerdekaannya. Pada masa itulah “the promised land comes to a reality” (pulau idaman menjadi realita). Insya Allah! (*)

New York, 30 Mei 2021 

* Diaspora Indonesia & Imam di kota New York.
×
Berita Terbaru Update