Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Penunjukan Gus Ipul Sebagai Ketua Panitia Muktamar Ke-35 NU Disoal

Thursday, May 7, 2026 | 08:56 WIB Last Updated 2026-05-07T01:56:54Z


SURABAYA (DutaJatim.com) - Penunjukan Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Sekjen PBNU sebagai Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU disoal. Bahkan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) disebut-sebut tidak setuju atas penunjukan Gus Ipul tersebut sebab baru pendapat pribadi-pribadi tanpa melalui proses di organisasi.


Karena itu,  Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim MAg, mengusulkan jalan tengah. Sebab Panitia Muktamar NU seharusnya netral. Artinya, bukan kelompok KH Miftachul Akhyar - Saifulllah Yusuf dan juga bukan kelompok Gus Yahya. 


"Lalu siapa mereka? Diambilkan saja dari pengurus-pengurus PWNU. Sehingga penyelenggaraannya nanti benar-benar netral, adil dan tidak terjadi risywah,” kata Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim dalam acara shalat malam dan istighotsah di Kantor Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Senin (4/5/2026) malam.


Putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada Agustus 2023 ini secara rutin mengadakan acara shalat malam berjamaah dan istighotsah untuk menyongsong Muktamar ke-35 NU yang rencananya digelar pada Agustus 2026 mendatang agar aman lancar dan berkah. Selain itu juga  untuk mendoakan keselamatan bangsa dan negara Indonesia.


Kiai Asep berharap Muktamar NU lancar agar warga Nahdlatul Ulama tenang dan jamaah Nahdlatul Ulama di desa-desa memiliki harapan karena terwakili dalam muktamar yang baik sehingga lahir pemimpin-pemimpin NU yang baik yang bisa mewujudkan kembali khittah dan perjuangan seperti saat NU didirikan. Menurut Kiai Asep, NU saat berdiri adalah mengawal dan mengembangkan serta mendominasikan paham Ahlussunnah Wal Jemaah. Selain itu juga untuk perjuangan kemerdekaan bangsa.


“Karena Ahlussunnan Wal Jemaah itu adalah paham persatuan dan kesatuan, inklusif dan mudarah (moderat),” ujarnya.


Sekarang, tegas Kiai Asep, kemerdekaan telah kita raih. Menurut dia, perjuangan NU tetap untuk menggemuruhkan paham Ahlussunnah Wal Jemaah tapi orientasinya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yaitu menjadikan Indonesia maju, adil dan makmur.


Kiai Asep kemudian menjelaskan cara mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan yang digagas para pejuang kemerdekaan.


“Salah satu caranya adalah melahirkan empat pilar,” ujarnya.


Pertama, tegas Kiai Asep, NU harus melahirkan ulama dan ilmuwan besar yang bisa menerangi dunia, terutama Indonesia.


Kedua, NU melahirkan pemimpin-pemimpin besar yang berorientasi pada kaidah tasyaraful imam ‘alarra’iyah manutun bilmaslahah. “Bahwa orientasi seorang pemimpin itu adalah kemaslahatan untuk rakyatnya,” ujar Kiai Asep.


“Untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia,” tambahnya.


Ketiga, ujar Kiai Asep, NU melahirkan konglomerat besar. “Tapi memberikan kontribusi maksimal terhadap negara dan bangsa dalam rangka mewujudkan kesejahteraan bangsa,” katanya.


Keempat, tegas Kiai Asep, NU melahirkan para profesional yang berkualitas dan bertanggungjawab. Menurut Kiai Asep, jika empat pilar itu terwujud maka NU akan memberikan sumbangan besar kepada bangsa Indonesia


Pada akhir kalimatnya Kiai Asep mohon maaf jika ada pernyataan yang tidak berkenan di hati para pengurus NU. “Kalimat saya singkat, mungkin menyakitkan, tapi insyaallah inilah kebenaran,” ujar Kiai Asep yang memiliki puluhan ribu santri putra dan putri di dua pesantrennya. (nas)


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update