![]() |
Riadi Ngasiran (Ketua Lesbumi PWNU Jatim) bersama KH Muhammad Jadul Maula (Ketua Lesbumi PBNU). |
JOMBANG (DutaJatim.com) - Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PWNU Jawa Timur mengingatkan pentingnya masyarakat kembali kepada akar tradisi dan menjadikan kebudayaan sebagai panglima.
"Sejauh ini, politik mendominasi kehidupan masyarakat kita. Politik praktis telah menjebak generasi muda bersikap dan berpikir pragmatis, jauh dari pemikiran ideal untuk perbaikan-perbaikan dan kemajuan bangsa. LESBUMI NU mencoba untuk merebut kembali kebudayaan sebagai panglima. Bukan politik sebagai panglima atau ekonomi sebagai panglima sebagaimana masa Orde Baru," tutur Riadi Ngasiran, Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur, dalam keterangannya Kamis 11 Juni 2026.
Hal itu diungkapkannya terkait penyelenggaraan Muktamar Kebudayaan Indonesia yang digelar LESBUMI PBNU di Universitas Wahab Hasbullah (UNWAHA) Tambakberas, Jombang pada 12-14 Juni 2026. Dihadiri seluruh aktivis LESBUMI NU, mulai cabang, wilayah hingga pusat.
"Momentum penting ini, janganlah makin mengentalkan politik sebagai domain pemikiran kebudayaan. Politik sebagai panglima sebagai simptom sosial sejak Reformasi digulirkan, belum bergeser menjadikan kebudayaan sebagai arah untuk memperbaiki bangsa di tengah krisis moral serta krisis multidimensional. Terbukti, makin merajalelanya kasus korupsi dan perilaku tak mengindahkan adab menjangkiti kehidupan kita," tuturnya.
Menurut Riadi, pengamat kebudayaan yang juga penulis buku-buku Sejarah Pergerakan dan Sejarah NU, makna kembali ke akar menjadi penting karena ada fenomena sosial, terutama generasi muda yang tercerabut dari akar-akar dan nilai budaya bangsanya.
"Alangkah eloknya kita mempertimbangkan kearifan yang dibangun para leluhur. Islam tak terpisah dari Kejawaan, Islam erat dan identik dengan Kemelayuan, dan erat denga tradisi-tradisi masyarakat kita, seperti Sunda, Bugis Makassar, Banjar, dll. Memperbaiki nasib bangsa demi kemajuan, dengan mudah dilakukan karena kita kaya akan khazanah tradisi budaya di masyarakat," kata penulis esai Patung-patung Impian, Mitos Kebudayaan ini.
Ada momentum penting yang sebelumnya digelar LESBUMI NU kerja sama Lembaga Ta'lif wa-Nasyr PWNU Jatim dan TV9, Muktamar Sastra Indonesia digelar di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo Situbondo pada 2018. Ketika itu, tampil KH Ahmad Mustofa Bisri, KH D Zawawi Imron, KHR Achmad Azaim Ibrahimy, H Lukman Hakim Saifuddin (saat itu Menteri Agama). Ketika itu, menjadi forum terbuka bagi para seniman dan sastrawan dari pelbagai daerah, dan lintas etnis, lintas iman.
"Semoga Muktamar Kebudayaan Indonesia ini, menjadi forum bagi berkecambahnya pemikiran-pemikiran genial dan orisinal dan jernih untuk kemajuan bangsa dan negara kita," kata Riadi Ngasiran.
Menurut rencana, Muktamar Kebudayaan Indonesia tersebut dibuka Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan menghadirkan sejumlah pembicara dari pelbagai kalangan: intelektual, agamawan, seniman dan bahkan politikus.
Momentum 100 Tahun Muassis Lesbumi: Asrul Sani
Sementara itu, Ketua Lesbumi PBNU KH Muhammad Jadul Maula menjelaskan, Muktamar Kebudayaan Indonesia menjadi momentum menjadi untuk menggali kembali akar pemikiran kebudayaan Asrul Sani.
"Bukan semata-mata figurnya ya, tapi sebetulnya kita ingin, ingin coba menggali lagi pemikiran kebudayaan beliau, yang sampai sekarang sebetulnya masih relevan," ungkapnya, pada kesempatan terpisah.
Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Bantul, Yogyakarta, tersebut lantas menyampaikan bahwa Asrul Sani pernah merumuskan perihal pengertian kebudayaan dalam NU.
"Dia mengatakan bahwa kebudayaan itu keseluruhan yang menjadi jalan, sarana untuk mendidik manusia, yang pilarnya itu ada tiga: agama, ilmu pengetahuan, dan seni," terangnya.
Kiai Jadul lantas menegaskan bahwa tiga pilar penting tersebut harus berjalan bersama. Sebab menurutnya, dari garis tersebut sudut pandang kebudayaan NU dapat dilihat.
"Ini ketiganya harus berjalan bersama, selaras, seimbang, tidak saling meniadakan, tidak saling menafikan, ya," ujarnya.
Pada Rabu (10/6/2026), dunia kebudayaan Indonesia memperingati satu abad lahirnya salah satu pemikir kebudayaan terpenting sekaligus tokoh muassis (pendiri) Lesbumi, Asrul Sani.
"Nah, ini momentum Muktamar 2026 ini juga persis, karena kan 100 tahunnya Asrul Sani 10 Juni 2026," ujar Kiai Jadul.
Kiai Jadul mengatakan, Asrul Sani merupakan tokoh pemikir kebudayaan terpenting mungkin dalam sejarah Indonesia yang dimiliki NU dan warga Indonesia.
Panitia lokal, Ki Wasis, menyebut muktamar 3 hari ini dirancang terbuka. Tujuannya mempertemukan tokoh, ulama, seniman, budayawan, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif.
“Di tengah kondisi ekonomi yang sumpek, muktamar ini diharapkan menyegarkan lewat gagasan seni-budaya yang mengakar tradisi tapi punya nilai ekonomi kreatif,” kata Ki Wasis.
Acaranya bukan sekadar seminar. Ada pameran pusaka, karya seni, kaligrafi, pertunjukan ludruk, tari topeng, macapatan, kerajinan, hingga orasi kebudayaan. Semua untuk menunjukkan bahwa seni-budaya Islam Nusantara yang ramah, yang maslahat, global, dan membumi.
Ki Wasis menambahkan selama acara Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) PCNU Kabupaten Jombang menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung dan membackup terutama tim medis Muktamar Kebudayaan Lesbumi PBNU 2026 serta Rakornas VII LESBUMI PBNU.
Muktamar Kebudayaan memilih UNWAHA sebagai lokasi karena kampus dinilai bisa jadi “dapur peracik seni-budaya”.
Harapannya, masjid-masjid yang jumlahnya ribuan di Indonesia tidak hanya untuk shalat formal. Masjid harus jadi pusat ilmu, seni, dan budaya Islamis agar umat keluar dari kemiskinan kultural dan struktural.
“LESBUMI sejak awal kemerdekaan hingga kini membuktikan peran besarnya. Kini saatnya ruh tradisi itu dikuatkan lagi agar Indonesia jadi mercusuar peradaban dunia,” tambah Kiai Jadul Maula.
Kekayaan akar budaya Nusantara bukan cuma modal, tapi potensi. Dengan tetap teguh pada akar tradisi dan nilai spiritual,
“LESBUMI berharap Muktamar Kebudayaan ini melahirkan rumusan genius. Rumusan itu kemudian bisa jadi pegangan umat Islam untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar lewat seni-budaya, menjaga etika, moral, dan akhlak mulia,” ungkapnya.
Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 bukan sekadar seremoni. Ini ikhtiar NU memastikan, jelang Indonesia Emas, seni dan budaya tetap jadi benteng jati diri bangsa yang majemuk dan beradab.
“Semoga rekomendasi yang lahir dari Muktamar Kebudayaan Indonesia di Jombang benar-benar membawa NU “kembali ke akar” khidmah untuk umat. Merawat jagad dan peradaban dunia. Demikian kata Kiai Jadul Maula. (jok)

No comments:
Post a Comment