Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

PBNU Deklarasi Pesantrenku Aman, Gus Yahya Wanti-wanti Cegah Kekerasan di Pesantren

Wednesday, June 3, 2026 | 13:50 WIB Last Updated 2026-06-03T06:50:56Z



PASURUAN (DutaJatim.com) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) dan Satuan Anti Kekerasan (SAKA) Pesantren resmi mendeklarasikan Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (2/6/2026).  Hadir dalam acara tersebut antara lain Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, dan jajaran PBNU lain serta sejumlah ulama dan santri. Pembacaan Deklarasi Pesantrenku Aman disampaikan oleh Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, KH M. Wafiyul Ahdi Amanullah. 

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dalam kesempatan itu  menyoroti potensi berbagai bentuk kekerasan yang dapat muncul di lingkungan pesantren. Untuk itu Gus Yahya pun wanti-wanti agar jangan sampai kekerasan terjadi di lingkungan pesantren. 

Menurut Gus Yahya, PBNU telah memberikan perhatian khusus terhadap persoalan tersebut selama lebih dari dua tahun terakhir. 

Gus Yahya menegaskan bahwa pesantren merupakan warisan tradisi yang sangat berharga karena tidak hanya melahirkan kader, kiai, dan ulama, tetapi juga membangun fondasi peradaban yang penting bagi bangsa dan negara. 

"Pesantren adalah warisan tradisi yang luar biasa berharga bagi kita," katanya dalam acara Doa Bersama dan Deklarasi Pesantrenku Aman di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Pasuruan.

Gus Yahya menjelaskan bahwa pesantren selama ini berhasil menanamkan nilai-nilai luhur yang kemudian berkembang menjadi bagian dari peradaban pesantren. Salah satu nilai tersebut adalah keikhlasan. 

"Kalau di masyarakat-masyarakat yang lain, mungkin soal ikhlas masih dibicarakan hanya sebagai wawasan tentang akhlak pribadi. Di lingkungan pesantren-pesantren kita, kita bisa menandai bahwa ikhlas itu sudah menjadi salah satu elemen peradabannya," katanya. 

Dia menilai, tumbuhnya budaya keikhlasan di pesantren tidak terlepas dari kuatnya tradisi wasilah atau hubungan spiritual antara santri dan guru. Melalui tradisi tersebut, para santri belajar menanamkan keikhlasan melalui penghormatan dan pengabdian kepada guru. "Ikhlasnya itu ikhlas kepada guru, nanti gurunya yang menyambungkan sampai kepada Allah. Namun, hal itu sudah menjadi nilai yang tertanam dan menjadi fondasi peradaban di pesantren," ujarnya. 

Karena peran dan nilainya yang begitu besar, Gus Yahya menegaskan bahwa pesantren merupakan aset yang sangat berharga bagi bangsa. Menurutnya, keberadaan pesantren kemudian memperoleh bentuk kelembagaan yang lebih luas melalui pendirian Nahdlatul Ulama. 

"Jam'iyyah Nahdlatul Ulama pada hakikatnya didirikan sebagai perwujudan kelembagaan dari kehadiran pesantren sebagai fondasi peradaban kita," katanya. 

Meski demikian, Gus Yahya mengingatkan bahwa masyarakat terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Karena itu, berbagai perubahan sosial yang terjadi perlu dicermati secara serius agar tidak menimbulkan dampak negatif, termasuk di lingkungan pesantren. 

"Zaman menghadirkan berbagai perubahan di dalam masyarakat yang dampaknya sangat mendalam, dan semua itu harus kita pikirkan," terangnya. 

Dalam kesempatan tersebut juga dibacakan Deklarasi Pesantrenku Aman oleh Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas KH M. Wafiyul Ahdi Amanullah. Deklarasi itu memuat lima komitmen untuk memperkuat perlindungan dan keamanan santri di lingkungan pesantren. 

Lima poin komitmen tersebut meliputi: 

1. Menguatkan sistem pengasuhan berbasis kemaslahatan santri. 

2. Menetapkan kebijakan dan mekanisme perlindungan santri. 

3. Membentuk Satgas Pesantren Aman. 

4. Menyediakan lingkungan, infrastruktur, dan saluran pengaduan yang aman. 

5. Membangun partisipasi dan budaya Pesantren Aman.


Transformasi Pesantren


Sementara itu, Ketua RMI PBNU, KH Hodri Ariev menyampaikan bahwa seluruh pengasuh pesantren perlu memiliki semangat yang sama untuk menjaga dan memperkuat pesantren di seluruh Indonesia. Terutama, katanya, dalam mendorong pesantren yang ramah anak dan bebas dari kekerasan. 


"Gerakan Kampanye Nasional Pesantrenku Aman ini merupakan salah satu turunan dari program Transformasi Pesantren. Sejak tahun 2023, Gus Ketum (KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya) sudah mengamanahi kami untuk merumuskan program besar di lingkungan RMI PBNU," katanya. 


Sementara itu, Penanggung Jawab SAKA Pesantren PBNU, Alissa Wahid menjelaskan bahwa para sesepuh PBNU menilai persoalan kekerasan di lingkungan pesantren sudah cukup mendesak sehingga memerlukan respons dan penanganan secara khusus.


"Karena itu, sebelum persoalan ini semakin banyak dan semakin melebar, dunia pesantren dan lembaga pendidikan di lingkungan NU perlu segera melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanganan apabila muncul kasus-kasus kekerasan," katanya.


Baginya, langkah tersebut diwujudkan melalui program transformasi pesantren yang bertujuan membangun lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah anak.   "Maka, PBNU mengambil langkah-langkah khusus dengan tujuan mendorong transformasi pesantren," katanya.


Lebih lanjut, Pengurus SAKA Pesantren PBNU, Ulun Nuha menyampaikan bahwa dari lebih dari 42 ribu pesantren yang terdaftar, 16 kasus kekerasan memang tergolong kecil secara jumlah. Namun, menurutnya, dari perspektif korban serta aspek moral dan keadilan, kasus-kasus tersebut merupakan persoalan serius yang dapat mencoreng nama baik pesantren. 


"16 kasus kekerasan tersebut merupakan persoalan besar dan menjadi fitnah yang serius bagi pesantren saat ini," katanya.


Ia menambahkan bahwa setiap kasus kekerasan di pesantren kerap menjadi sorotan publik dan bahan perundungan di media sosial karena tingginya harapan masyarakat terhadap pesantren sebagai lembaga penjaga nilai-nilai moral dan keislaman. (jok)

No comments:

Post a Comment

Bisnis

Bisnis
×
Berita Terbaru Update