Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sinau Nulis Jawa Cara Lestarikan Budaya di Kalangan Muda

Tuesday, July 14, 2026 | 17:29 WIB Last Updated 2026-07-14T10:29:33Z
Anet (kiri) dan Wahyu dengan beberapa peserta Sinau Nulis Jawa, Sabtu (11/7/2026).


SURABAYA (DutaJatim.com) - Menulis dalam aksara Jawa (hanacaraka) kini sudah semakin jarang dilakukan orang. Meski begitu, masih banyak yang minat untuk bisa menulis dan membacanya.


"Kalau dilihat dari IG cukup banyak peminatnya. Kita kan punya konten Sinau Nulis Jawa di IG-nya Panjebar Semangat. Dari komen-komen yang masuk ternyata banyak yang minta diadakan pelatihan langsung. Selama ini pelatihannya secara online," terang Wahyu PS, usai mengenalkan dasar-dasar aksara Jawa dan cara-cara menuliskan huruf Jawa dari huruf latin. 


Staf redaksi majalah berbahasa Jawa, Panjebar Semangat itu menjelaskan ada tanda2 dalam huruf Jawa yang harus ditambahkan agar saat tidak salah saat dibaca. Dicontohkan kata "senja", kalau dituliskan dalam huruf jawa akan berbunyi senjo, agar berbunyi senja harus ditambahkan "h" (wignyan) meski akan berbunyi senjah. Kata Indonesia, kalau ditulis dengan aksara Jawa pelafalannya akan berbunyi indhonesiyah.


Begitu juga kalau ingin menuliskan  nama, misalnya Rizky tulisannya dalam huruf Jawa Riski atau Celine menulisnya Selin. "Jadi yang dituliskan ke  dalam aksara Jawa itu pelafalannya," tambah alumni Unesa tersebut pada peserta.


Penggagas pelatihan, Celine Anjanette, menambahkan kegiatan ini merupakan kali ketiga diselenggarakan. "Kali ini kami coba berbayar, ternyata banyak juga peminatnya. Sungguh kami nggak menduga. Tapi karena terbatasnya ruangan, jumlah pesertanya juga nggak bisa banyak," ujar Anet, panggilan akrabnya.


Diungkapkan, berbeda dengan dulu, aksara Jawa kini lebih dipandang sebagai seni yang punya keindahan karena bentuk tulisannya yang mlungker-mlungker. 


Anet mencontohkan nama-nama jalan di Yogyakarta yang ditulis dalam aksara Jawa namun di bawahnya tetap dituliskan huruf latinnya, sehingga orang tetap bisa membacanya. 


Begitu pun di Surabaya, Walikota Eri Cahyadi sejak September 2023 lalu telah menerapkan penggunaan huruf latin yang dilengkapi aksara Jawa pada papan nama di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD). Penggunaan huruf latin yang dilengkapi aksara Jawa itu bertujuan untuk melestarikan budaya pada lingkungan kota Pahlawan.


"Selain untuk melestarikan, kesannya kan jadi indah. Dan keindahan itulah yang rupanya jadi diminati anak-anak muda sekarang," ujar Anet.


Dia menyebut, anak muda senang ke hal yang  sifatnya kembali ke akar budaya dan pengen tahu. Contohnya kebaya, banyak yang memakai dengan gaya khas mereka. Begitu juga dengan kainnya. "Tapi itu nggak papa, yang penting mereka mau. Soalnya saya melihat aksara Jawa ini kan seperti terputus, dari generasi sebelumnya ada jeda di mana orang tak tertarik dan sekarang generasi saat iki kembali tertarik," lanjut alumni Ilmu Komunikasi Unair tersebut.


Kegiatan offline Sinau NulisJawa yang digelar Sabtu (11/7/2026) diikuti peserta dari berbagai usia. Beberapa sudah kenal, tapi ada juga yang belum pernah mengenal.


Safina misalnya, mengaku sama sekali tidak bisa. Tapi atas ajakan temannya dia jadi tertarik mengikuti kegiatan yang diadakan majalah berbahasa Jawa yang tahun ini akan berusia 93 tahun tersebut.


Sedang Ata siswi kelas 10 SMK 17 Agustus 1945 mengaku ikut kegiatan ini karena disuruh ibunya. Bersama adiknya yang kelas 2 SD dan temannya semasa SMP, Ata mengikuti kegiatan yang dilanjut menulis atau melukiskan kata dalam aksara  di atas gantungan kunci. 


Bagi Melinda Maharani, kegiatan Sinau Aksara Jawa secara offline ini sangat mendukung pekerjaannya sebagai guru bahasa Jawa di SMAN 4 Surabaya. "Ini pesertanya Gen Z sekali, saya merasa perlu ikut karena terkait dengan pekerjaan dan bisa diterapkan di sekolah saya," ujarnya.


Sesuai Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 36 Tahun 2024 tentang Mata Pelajaran Bahasa Daerah sebagai Muatan Lokal Wajib Kurikulum Merdeka, bahasa daerah (Jawa/Madura) jadi muatan lokal wajib pada jenjang SMA, SMK, dan Pendidikan Khusus.


Sebagai upaya untuk melestarikan budaya, Anet tak menutup kemungkinan untuk menggelar kegiatan semacam. "Dari respon di IG ada beberapa daerah yang minta kami mengadakan kegiatan offline di tempatnya, seperti Semarang, Pasuruan. Tidak menutup kemungkinan memang, tapi untuk saat ini kami gelar di Surabaya dulu," pungkasnya.(ret)




 

No comments:

Post a Comment

Bisnis

Bisnis
×
Berita Terbaru Update