PROMOSI PRODUK

Preman Berhijrah

On Monday, December 02, 2019



AKTRIS Cerelia Raissa berhijrah. Bertobat. Sebulan lalu. Bahkan sekarang dia berhijab. Cantik. Anggun. Kisah hijrah Cerelia itu bisa dilihat  di channel YouTube Gritte Agatha. 

Dulu, Cerelia mengaku perempuan bandel. Bahkan bandel sekali. Karena itu, sempat muncul kata preman. Ya, sekarang ini, saat dia berhijrah. Teman-temannya bilang ada preman tobat.

"Gue ngerasa dipanggil preman tobat. Gue bandelnya kecepetan. Terus gue temenannya pasti di atas gue. Jadi kalau nongkrong mereka bandelnya itu, gue bandelnya itu, tapi gue baru umur berapa gitu, dan gue tobat kecepetan. Jadi bandel kecepetan, tobat kecepetan," katanya.

Pemain film "Anak Kos Dodol" itu memberikan contoh kebandelannya di masa lalu. Dia dulu cewek yang suka mabuk. Bahkan pemabuk berat. Juga suka dugem. Hobi merokok.

"Soal minum, gue alkoholicnya. Sampai di titik kayak gue nggak bisa tidur kalau gue nggak minum alkohol. Ya gue addicted (alkohol)," katanya.


Pemabuk berat membuat  Cerelia Raissa sudah merasa biasa. Dia merasa nyaman bergaya hidup seperti itu. Ketika itu, dara 22 tahun tersebut merasa seperti tak mempunyai tanggung jawab. Hidup bebas.

"Gue bener-bener bangun tiap siang. Sore hangover, malam dinner, drinks, terus mabok sampai pagi. Terus tidur sampai siang. Tiap hari gue kayak gitu, kayak nggak punya tanggung jawab," ujarnya.

Cerelia Raissa mengaku mencoba bandel di usia 13 tahun. Ia menyatakan dulu begitu nakal karena tak bisa mengontrol diri.

"Gue itu orangnya nggak punya self control. Jadi gue orangnya ya sudah gue coba, oh gue suka yang ini, oh gur nggak suka yang ini," katanya.

Namun kini Cerelia Raissa sudah berubah. Dia benar-benar ingin meninggalkan masa lalunya yang kelam tersebut. Ya untuk kembali kepada Tuhan. (dth)

Gubernur Khofifah Minta Atlet SEA Games Asal Jatim Raih Emas, Ada Hadiah Spesial Lho!

On Wednesday, November 27, 2019


SURABAYA (DutaJatim.com) - Gubernur Khofifah Indar Parawansa melepas 119 atlet dan 29 pelatih kontingen SEA Games Manila 2019 asal Jawa Timur (Jatim). Para atlet asal Jawa Timur itu berlaga hampir di semua cabang olahraga yang dipertandingkan di ajang tersebut.

Bahkan atlet Jatim mendominasi di cabor tenis lapangan. Dari 10 atlet yang dikirim ke Filipina, ada 8 atlet asal Jatim, di antaranya Christopher Rungkat dan  Aldila Sutjiati.  Dalam kejuaraan dua tahunan ini Indonesia ikut dalam 51 dari 56 cabang olahraga yang dipertandingkan. Pesta olahraga Asia Tenggara ini akan berlangsung 30 November hingga 11 Desember 2019 mendatang.

Untuk itu, Gubernur Khofifah memberi pesan khusus kepada para atlet agar tetap mengobarkan semangat kebangsaan. Gubernur memanfaatkan pula momentum itu untuk memompa semangat para atlet agar maksimal dalam bertanding. Khofifah ingin Bendera Merah Putih berkibar dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di Filipina.

"Atlet Jawa Timur harus mampu mengibarkan bendera merah putih dan kumandangkan Indonesia Raya di sana, raihlah emas sebanyak mungkin dan buatlah bangga Indonesia di mata dunia lewat prestasi kalian. Saya yakin Jawa Timur mampu," kata Khofifah saat melepas para atlet di Jakarta, Selasa (26/11/2019) malam.

Gubernur pun berharap seluruh atlet bisa berusaha sekuat tenaga dalam semua pertandingan di SEA Games. Khofifah berpesan untuk para pelatih agar terus memberikan dukungan moril dan motivasi agar atletnya berada dalam kondisi prima saat bertanding.

"Atas nama Pemprov Jatim, saya mengucapkan selamat mengemban tugas dari bangsa dan negara tercinta. Kami semua mendoakan agar seluruh atlet meraih hasil terbaik untuk Indonesia. Junjung terus semangat, kekompakan dan sportivitas," ujarnya.

Mantan Mensos ini menjelaskan turnamen olahraga internasional seperti SEA Games sangat bagus untuk mengasah mental atlet-atlet muda Indonesia. Karena itu Khofifah yakin, ke depan akan ada banyak atlet berprestasi yang terlahir dari Jatim.

"Untuk mencetak atlet profesional tentu memerlukan pengalaman bertanding. Dalam turnamen mereka akan merasakan ketatnya atmosfer kompetisi. Mental mereka akan teruji betul. Saya yakin ke depan semakin banyak lahir atlet muda berprestasi asal Jatim," katanya

Selain itu, dalam acara ini Khofifah juga memberikan uang saku bagi para atlet. Sedangkan terkait bonus, Khofifah menyebut Pemprov Jatim dan KONI telah menyiapkan hadiah spesial bagi atlet yang mampu meraih emas. Selamat bertanding! (hms/det)

Agnes Mo dan Keindonesiaan Kita

On Tuesday, November 26, 2019


JAKARTA (DutaJatim.com) - Media sosial dibikin heboh oleh artis Agnes Mo. Gegaranya artis yang berkarier di industri musik Amerika Serikat ini mengaku tidak memiliki darah Indonesia dalam sebuah wawancara dengan media di negeri Paman Sam.

Kontan saja Agnez Mo dibanjiri kritikan. Tapi ada juga yang membelanya.  Tak lama setelah itu Agnes Mo pun mengklarifikasi lewat unggahan di Instagram pribadinya, Selasa (26/11/2019). Pelantun lagu Nanana itu mengunggah ulang cuplikan wawancaranya dengan media Build Series dengan harapan agar warganet lebih mencermati kata-katanya yang sebenarnya tidak diniatkan untuk merendahkan negeri tempat kelahirannya.

Dalam video itu, Agnez mengatakan kepada  pembawa acara mengenai keragaman Indonesia yang memiliki lebih dari 18 ribu pulau. Di antara pulau tersebut pun memiliki berbagai perbedaan seperti pakaian, adat, hingga musik. Selama ini dalam berbagai kesempatan Agnes Mo tampil dengan busana Papua.

Melengkapi unggahannya itu, Agnez Mo juga  menuliskan sebuah keterangan untuk video tersebut. Penyanyi 33 tahun itu berbicara mengenai keberagaman budaya Indonesia dengan balutan nilai Bhinneka Tunggal Ika.

“Saya tumbuh dalam budaya yang begitu beragam. Keberagaman budaya adalah apa yang saya perjuangkan. Bhinneka Tunggal Ika berarti bersatu dalam perbedaan,” kata Agnez Mo mengawali tulisannya.

Agnez mengaku senang dan bangga ketika dapat bercerita tentang asal usul negaranya seperti yang dia lakukan dalam sesi wawancara tersebut. Pemilik nama lengkap Agnes Monica Muljoto ini akan memberikan keterangan yang benar saat menceritakan keadaan di negaranya.

"Saya akan selalu jujur dan bersaksi kepada dunia bagaimana minoritas seperti saya diberi kesempatan untuk memiliki mimpi dan mengejar impian kita,” kata Agnez Mo.

"Ya (saya terlihat berbeda dengan orang Indonesia ) karena sebenarnya saya tidak memiliki darah Indonesia. Saya sendiri berdarah Jerman, Jepang, dan China tapi saya lahir di Indonesia,” tutur Agnez Mo di acara tersebut. 

Sebenarnya yang disoal warganet adalah kata "darah Indonesia". Bila ini yang jadi masalah, Agnes Mo mungkin benar sebab dia bukan asli pribumi. Seperti disebutkan tadi, Agnes keturunan China, Jerman, dan Jepang. 

Tapi dalam Sumpah Pemuda, mengaku bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, sebenarnya tidak menyangkut darah dalam artian genetik keturunan melainkan tempat kelahiran. Agnes Mo sudah benar menyebut lahir di Indonesia dan bangga bisa besar di negeri dengan keberagaman suku, bahasa, dan budaya.  

Untuk itu ada netizen yang membandingkan Agnes dengan Susi Susanti. Cukup menarik, sebab keduanya sama-sama berprestasi tingkat internasional dan sama-sama dari etnis Tionghoa. Hanya saja, Susi lebih menunjukkan rasa bangganya sebagai orang Indonesia.  Karena itulah komentar  Agnes disuudzoni oleh para netizen yang sudah telanjur banyak yang mengkritiknya. 

Asal kritik baik tentu tidak masalah. Misalnya dunia Twitter juga mendadak ramai karena cuitan Dian Sastro yang sepertinya merespon Agnes Mo. Bintang film Ada Apa Dengan Cinta itu memaparkan teori tentang identitas bangsa Indonesia.

"Gue punya teori: bahwa rasa bangga kita sebagai bangsa Indonesia itu berbanding lurus dengan luasnya wawasan dan pengetahuan kita terhadap sejarah dan kebudayaan bangsa kita," tulis Dian pada Selasa (26/11/2019).

Melengkapi cuitannya, Dian mengunggah gambaran kurva. Berdasar kurva tersebut, semakin sedikit pengetahuan mengenai sejarah Indonesia, maka semakin rendah juga kecintaannya. Rasa bangga sebagai orang Indonesia berbanding lurus dengan rasa memiliki dan pengetahuan atau wawasan kebangsaan.

Unggahan aktris 37 tahun itu langsung mendapat beragam komentar dari netizen. Di antaranya mengaitkan cuitan Dian dengan Agnez Mo. Pasalnya, sosok pelantun Nanana itu kini tengah menjadi sorotan publik akibat mengklaim dirinya tak memiliki darah Indonesia.

"Berarti secara enggak langsung wawasan dan pengetahuan sejarah, kebudayaan @agnezmo terhadap Indonesia masih sangat minim ya?" komentar seorang netizen.  

Ya, itulah Agnes Mo dan Keindonesiaan Kita.

Tidak masalah kritik sebab ada ruang untuk diskusi soal keindonesiaan kita, termasuk saudara kita kaum diaspora yang ada di Amerika Serikat. Kita maklum sebagian kecil di antara kaum diaspora di Amerika tidak suka dengan negeri asalnya mengingat sebagian di antara mereka pernah mengalami masa sulit hingga harus pergi jauh ke sana. 

Tapi perlu dipahami bahwa episode sulit itu tidak bisa digebyahuyah (generalisasi) bahwa Indonesia negeri yang buruk dalam hal toleransi, sebab di Amerika sendiri juga ada episode yang lebih buruk lagi. Itulah mengapa kita harus saling memahami sebagai bangsa dan negara. Heboh  Agnes Mo dan Keindonesiaan Kita harus diambil hikmahnya. Semoga! (gas) 


Gunung Pundak Pacet, Cocok Bagi Pendaki Pemula, Manula, dan Keluarga

On Friday, November 22, 2019



MOJOKERTO (DutaJatim.com) - Saya baru tahu kalau ada pendakian gunung "endek-endek an" alias "tipis-tipis saja". Tanpa menguras energi. Tanpa modal banyak. Tanpa butuh sewa mobil untuk transportasi ke lokasi. Maksudnya, tidak perlu ke gunung yang tinggi, seperti Gunung Semeru. 

Saya sendiri sudah mendaki Gunung Ijen, Gunung Bromo, Gunung Penanggungan, dan Arjuno, tapi itu sewaktu muda dulu. Sekarang sudah senja, sehingga harus tahu diri untuk tidak naik gunung yang tinggi. Napas ndak nutut lagi.

Sampai putri saya yang mewarisi hobi bapaknya itu mengajak saya naik gunung. Tidak perlu jauh-jauh. Gunung di Celaket, Pacet, Mojokerto saja. Padahal, kalau ke Pacet, saya biasanya hanya mandi air panas. Kungkum. Berendam. Kadang minum susu segar yang dulu sering dijual PKL di pusat kota Pacet.

Saya ikuti saja ajakan anak saya. Dan kemarin saya pun naik gunung itu. Gunung Pundak. Kata orang mendaki gunung ini cocok bagi pemula. Pendaki yang baru pertama atau amatiran. Sekarang saya tambahi, cocok juga untuk manula seperti saya hehehe. 

Mengapa?

Gunung Pundak Pacet, Cocok Bagi Pendaki Pemula, Manula, dan Keluarga. Ya, karena gunung ini tidak terlalu tinggi. Rute pendakiannya masih aman dan nyaman. Puncak Gunung Pundak berada di ketinggian 1.585 meter dari permukaan laut (Mdpl). Jalan setapak di jalur pendakian cenderung landai. Hanya sesekali saja ada jalur yang curam. Itu pun ketika menuju puncak saja.

Namun, jangan ditanya soal keindahan panoramanya. Sungguh menakjubkan. Pemandangan alam hutan vegetasi yang masih asri.  Kondisi tersebut rasanya sangat pas untuk pendaki pemula atau wisatawan bersama keluarganya. Dan juga seperti saya: manula yang ingin tetap sehat. 

Perlu diketahui, saat mendaki di Gunung Pundak ada tiga pos di sepanjang jalur tracking yang akan dilalui. Bila berjalan secara pasti maka estimasi perjalanan hingga menuju puncak gunung sekitar 2,5 jam saja.

Pada Pos 1 dan 2 jalur track pendakian akan melewati vegetasi hutan heterogen.  Setelah berjalan masuk ke dalam hutan melewati pos tiga ke arah puncak akan ada sumber air yang berada di sebelah kanan.  Dari titik sumber air itu sekira 10 menit bakal melewati hamparan padang rumput hingga menuju puncak.  Sebagai penanda ada plakat berukuran kecil di puncak gunung Pundak. Ada juga tanda seperti ditunjukkan oleh Mas Paul Kawinda yang mendaki Gunung Pundak bersama sang istri dalam video di artikel ini.

Sesampai di puncak gunung ada area membuat base camp mendirikan tenda dome yang cukup luas. Untuk itu harus selalu menempatkan pintu tenda dome berlawanan arah angin. 
Lebih disarankan pula agar pendaki berangkat pada malam hari. Sama dengan di Bromo, ini agar mempunyai banyak waktu di puncak gunung untuk melihat sunrise matahari dan pemandangan di sekitar. Panorama alam di puncak akan terlihat penuh bentuk Gunung Welirang yang menjulang tinggi.

Lalu di sebelah kiri tampak pula Gunung Penanggungan dan di arah sebaliknya Gunung Biru atau pegunungan Anjasmoro. Gunung Pundak berada di kawasan punggung Gunung Welirang yang masih terjaga kelestariannya. Mungkin itulah mengapa disebut Gunung Pundak sebab berada di pundaknya gunung gemunung.

Di puncak gunung bisa melakukan aktivitas memasak dan makan bareng bersama pendaki lainnya.  Cukup dingin suhu udara di kawasan puncak Gunung Pundak. Sesekali kabut putih turun secara perlahan di area puncak.

Evi Susanti (27), warga Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, pernah bersama rombongan keluarganya mendaki gunung ini. Bahkan dia juga mengajak putrinya, Jihan Putri Nur Janah, yang masih berusia 6.5 tahun. Artinya, aman untuk anak-anak.  "Ada 40 orang dalam rombongan pendakian," katanya.

Evi mengatakan aktivitas outdoor itu merupakan pendakian gunung pertama bersama keluarga besarnya.  Dia tertarik melakukan pendakian bersama lantaran Gunung Pundak mempunyai pemandangan yang luar biasa indah.

"Vegetasi hutan di sini masuk dalam wilayah konservasi jadi masih sangat bagus dan terjaga keasriannya," katanya.

Saya melihat selintas sepi. Tapi di puncak cukup ramai. Ada lokasi-lokasi yyang cocok untuk selfie atau instagramable. Karena itu banyak pendaki ke sini. Pada saat wekeend pendaki terbanyak sekitar 200 orang. Untuk hari reguler ada sebanyak 50 pendaki via jalur Bumi Perkemahan Pacet dan Taman Hutan Raya R Soerjo.  Rata-rata pendaki lokal dan luar kota seperti Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Malang dam sekitarnya.

Harga tiket pendakian ke Gunung Pundak relatif terjangkau satu tiket Rp 10.200 untuk parkir mobil Rp 10.000 dan motor Rp 5.000.  Seluruh pengelolaan ini merupakan wewenang dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Para pendaki nantinya akan diberi formulir untuk diisi sesuai rencana pendakiannya. Pendaki diminta untuk mematuhi seluruh peraturan norma sosial selama berada di gunung.

Apabila, melebihi batas waktu sesuai yang ditulis di formulir akan ada sanksi berupa denda secara administratif.  Gunung Pundak ini wisata edukasi untuk anak-anak agar 
lebih mengenal alam dan menghargainya. 

Untuk ke lokasi ini sangat mudah. Lokasi pendakian ini masih berada di kawasan Bumi Perkemahan Pacet, Taman Hutan Raya R Soerjo atau Wana Wisata Air Panas Padusan, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Yuk, mendaki ke Gunung Pundak liburan besok! 

Gunung Pundak Pacet, Cocok Bagi Pendaki Pemula, Manula, dan Keluarga . (bdh)

Foto: bapermulu.com

Begini Harapan Stafsus Presiden yang Cantik Ini untuk Kaum Disabilitas

On Thursday, November 21, 2019



JAKARTA (DutaJatim.com) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara khusus memberi tambahan tugas kepada salah satu staf khususnya, Angkie Yudistia. Tugas itu sebagai juru bicara (jubir) bidang sosial. Selama ini Jubir Presiden adalah Fadjroel Rachman yang juga Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi. 

Angkie merupakan perempuan berusia 32 yang aktif bergerak di sosiopreneur melalui Thisable Enterprise yang didirikannya. Selain itu perempuan berhijab ini juga aktif sebagai anggota Asia-Pacific Federation of the Hard of Hearing and Deafened dan anggota International Federation of Hard of Hearing Young People. 

Angkie Yudistia mengaku bangga diminta sebagai staf khusus dan jubir Presiden. Apalagi, dia adalah satu-satunya perempuan disabilitas yang diberikan kesempatan ikut membantu membangun negara.

“Saya diberi kesempatan terbaik oleh Bapak Presiden berdiri di sini menyuarakan 21 jiwa disabilitas di seluruh Indonesia. Saya bangga  berdiri di sini mewakili disability,” katanya.

Dan Begini Harapan Stafsus Presiden yang Cantik Ini untuk Kaum Disabilitas. Angkie mengatakan sudah waktunya kaum disabilitas dianggap bukan kelompok minoritas. Mereka harus diperlakukan setara dengan warga lain. Dia pun ingin membentuk lingkungan inklusi bersama staf khusus Presiden yang lainnya.
“Mudah-mudahan saya bisa bekerja lebih baik ya Pak. Dibantu teman-teman yang hebat di sini,  bantuan teman-teman wartawan dan masyarakat Indonesia menjadikan Indonesia lebih ramah disabilitas,” katanya.

Perempuan berparas cantik ini dikenal sebagai pendiri Thisable Enterprise. Dia membidani pusat pemberdayaan ekonomi kreatif untuk kalangan disabilitas itu karena didorong pengalamannya yang pahit sebagai penyandang disabilitas.

Betapa tidak, dia lulusan S2 tapi Angkie seringkali ditolak perusahan karena permasalahan pendengaran. Pengalaman itu mendorongnya mendirikan Thisable Enterprise dengan misi untuk memberdayakan penyandang disabilitas Indonesia agar bisa masuk ke dunia kerja selayaknya orang lain.

Kesadaran Masyarakat

Begini Harapan Stafsus Presiden yang Cantik Ini untuk Kaum Disabilitas. Ya, dia sangat menginginkan agar kaum disabilitas dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Kesulitan yang dihadapi Angkie ketika mendirikan Thisable Enterprise adalah membangun kesadaran masyarakat.

Para difabel yang tergabung dalam Thisable Enterprise diberi pelatihan oleh tim. Nantinya akan ada penilaian untuk disabilitas tipe vocasional dan profesional. Setelah menjalani pelatihan dan penilaian, disabilitas mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

Untuk disabilitas tipe vocasional dapat bekerja dengan perusahaan jasa online. Sedangkan untuk tipe profesional dapat bekerja di bidang perbankan. 

Thisable Enterprise telah bekerja sama dengan GoLife (sister company GoJek) untuk penempatan tenaga kerja tunanetra di GoMassage, tunarungu di Goauto dan Go-Clean. Untuk pekerja profesional, tunadaksa dan tunanetra ditempatkan di beberapa perusahaan seperti CIMB Niaga, Rabobank, dan PGN MAS.

Thisable Enterprise yang didirikannya mampu mengurangi angka pengangguran terutama disabilitas di Indonesia. Menurutnya, butuh waktu cukup lama untuk mewujudkan mimpinya. Semua butuh proses dan pasti ada jalan keluarnya.
Tidak hanya dipercaya sebagai staf khusus, Angkie juga ditunjuk menjadi salah satu juru bicara Presiden. "Saya minta Angkie menjadi jubir presiden bidang sosial," ujar Jokowi.

Seperti diberitakan DutaJatim.com sebelumnya, Presiden menunjuk tujuh staf khusus milenial. Mereka dari kalangan anak muda berprestasi di bidang masing-masing yang diharapkan memberi ide-ide segar untuk membangun Indonesia lima tahun masa pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin.

"Tujuh anak muda ini menjadi teman diskusi saya. Diskusi harian, mingguan, bulanan. Memberikan gagasan segar yang inovatif," kata Presiden Jokowi saat mengenalkan tujuh staf khusus milenial itu di Istana Merdeka, Jakarta Kamis (21/11/2019).

Mereka dinilai mumpuni di sektor kreatif, pendidikan, hingga teknologi keuangan. Selain itu ada pula pemuda asal Papua dan penyandang disabilitas. Pilihan Kepala Negara kepada anak muda ini bertujuan menjembatani Pemerintah dengan anak-anak muda, kalangan santri, kaum diaspora yang tersebar di berbagai tempat.  

"Saya yakin gagasan segar kreatifnya untuk membangun negara ini," kata Jokowi.
Jokowi Tunjuk 7 Staf Khusus Milenial, Ini Profil Mereka. Selanjutnya Presiden pun memperkenalkan satu per satu para staf khusus milenial tersebut.

Pertama, Adamas Belva Syah Devara. Usia 29 tahun. Pendidikan S2. Ganda. Lulusan Harvard dan Stanford di Amerika Serikat. Belva selama ini dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO Ruangguru. Dia masuk ke Forbes 30 saat umurnya masih di bawah 30 tahun. "Juga dapat medali emas dari Lee Kuan Yew saat lulus NTU Singapura," kata Jokowi.

Kedua, Putri Indahsari Tanjung. Umur 23 tahun. "Saya juga kaget. Ini lulusan Academy of Arts di San Fransisco. Kita sering dengar sebagai CEO Creativepreneur dan Chief Business Officer Kreavi," ujar Kepala Negara.

Ketiga, Andi Taufan Garuda Putra. Umur 32 tahun. Lulusan Harvard. Di dunia entrepreneur banyak meraih penghargaan atas inovasinya dan kepeduliannya di sektor-sektor UMKM. Menjadi CEO Amartha Mikro fintech. "Saya kenal Beliau saat urusan fintech," ujarnya.

Keempat, Ayu Kartika Dewi. Usia 36 tahun, tapi Jokowi menyebut kelihatannya masih usia 25 tahun. Dia salah satu anak muda yang punya misi mulia untuk merekatkan persatuan di tengah kebhinnekaan. Menjadi pendiri dan mentor lembaga Sabang Merauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali). Meraih Gelar MBA di Duke University di Amerika.

Kelima, Gracia Billy Mambrasar. Usia 31 tahun. Putra bumi Papua ini  lulusan Australia National University (ANU) S2. Sekarang hendak menyelesaikan studi di Oxford. Selanjutnya Oktober mendatang juga akan masuk Harvard menempuh pendidikan S3. "Billy talenta hebat tanah Papua yang kita harapkan banyak berkontribusi dengan gagasan inovatif dalam membangun tanah Papua. Menjadi CEO Kitong Bisa," katanya.

Keenam, Angkie Yudistia. Usia 32 tahun. Anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak sociopreneur melalui ThisAble Enterprise yang didirikannya. "Saya minta Angkie jadi jubir presiden di bidang sosial," katanya.

Ketujuh, Aminuddin Ma'ruf. Umur 33 tahun. Pernah menjadi ketua umum PB PMII. Dia mendapat tugas dari Presiden untuk mendalami dunia santri.

"Saya minta keliling ke santri, pesantren, untuk menebar gagasan inovasi baru. Saya yakin santri bisa lahirkan talenta-talenta yang hebat memajukan bangsa ini," kata Jokowi.

Mereka diharapkan memberikan gagasan segar inovatif sehingga bisa mencari cara baru yang out of the box, melompat mengejar kemajuan untuk negara kita. "Kita akan lihat nanti gagasan itu apakah bisa diterapkan dalam pemerintahan," katanya.(hud/det/sdn)

Tim Kesenian Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta Raih Penghargaan Tertinggi di Rusia

On Thursday, November 21, 2019



MOSKOW (DutaJatim.com) - Tim kesenian Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta berhasil menorehkan prestasi dengan menyabet berbagai penghargaan pada 12th International Folklore Festival INTERFOLK in Russia yang berlangsung di St. Petersburg, Rusia, 14-17 November 2019. Ini artinya Tim Kesenian Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta Raih Penghargaan Tertinggi di Rusia.

Festival ini diikuti oleh 13 negara, yaitu Amerika Serikat, Belarus, Bulgaria, Estonia, India, Indonesia, Iran, Latvia, Prancis, Portugal, Rusia, Srilanka, dan Turki. Rusia sendiri mengikutsertakan tim kesenian dari berbagai kota, seperti Moskow, St. Petersbrug, Tver, Beryozovsky, Obinsk, Naberezhnye Chelny, Yakutsk, dan Irkutsk.

Penampilan tarian Ratoeh Jaroe yang dibawakan 25 orang siswi SMP-SMA Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta menjadi perhatian tidak hanya para penonton yang hadir, tetapi juga dewan juri. Gerakan-gerakan tarian yang serempak memikat penonton dan dewan juri. Di babak penyisihan tim kesenian Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta berhasil menyisihkan tim-tim lainnya dan lolos ke grand final.


Semangat para siswi Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta ini sangat tinggi untuk memberikan penampilan yang terbaik. Di final penampilan mereka kembali memukau penonton dan dewan juri sehingga tidak tanggung-tanggung penonton dan dewan juri memberikan penilaian dan penghargaan kepada tim Indonesia.



Dari penampilan tersebut, tim kesenian Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta menyabet berbagai penghargaan. Penghargaan tersebut tidak hanya Grand Prix, tetapi juga penghargaan lainnya, yaitu First Laurette Category Folk Dance, dan 3 Special Prize of The Jury, yaitu Star of Interfolk, For the High Level of Performance Skills, dan For the Best Musical Accompaniment of the Competition Program.

Yang menarik lagi adalah penghargaan Star of Interfolk, yaitu juara favorit pilihan penonton yang merupakan hasil voting seluruh penonton warga kota St. Petersburg. Para penonton diberikan kertas yang berisi nama tim peserta final untuk dipilih. Hasil voting menunjukan bahwa tim Indonesia berhasil menjadi juara dengan pilihan suara terbanyak. Dengan demikian 

Tim Kesenian Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta Raih Penghargaan Tertinggi di Rusia

Yunita Wulandari, guru pembimbing SMP-SMA Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta yang turut mendampingi tim pada festival di St. Petersburg menyatakan kegembiraan atas prestasi yang diraih para siswi didiknya. Munurut Yunita, keberhasilan ini bukan hanya membawa nama sekolah, tetapi juga bangsa Indonesia.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung tim Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta, termasuk KBRI Moskow. Latihan yang intensif selama tiga bulan terakhir membuahkan hasil yang menjadi kebanggaan kita bersama,” kata Yunita.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M . Wahid Supriyadi, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas prestasi yang diraih tim kesenian Indonesia. Menurut Dubes Wahid, keikutsertaan ini sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di Rusia.

INTERFOLK in Rusia adalah festival tahunan di St. Petersburg yang bertujuan untuk meningkatkan saling pengertian, memperkuat solidaritas, saling memperkaya budaya, dan mempromosikan kerja sama dan pertukaran budaya internasional.

Sebelum mengikuti festival di St. Petersburg tim kesenian Kesatuan Bangsa Boarding School Yogyakarta berkunjung ke KBRI Moskow dan bertemu pimpinan KBRI Moskow. Di samping mengikuti lomba, Tim kesenian Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta memberikan pengenalan budaya Indonesia berupa pelatihan (master class) tarian Aceh kepada para peserta festival lainnya. (Gatot Susanto)

Ada Apa Kiai Ma'ruf Tampil Kekinian, Tanpa Sarung dan Kopyah?

On Wednesday, November 20, 2019



JAKARTA (DutaJatim.com) - Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin beberapa kali tampil beda. Publik telanjur melihat style KH Ma'ruf Amin sebagai kiai kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) yang selalu lekat dengan penampilan santri. Bersarung dan berpeci atau kopyah. Khas kiai pondok pesantren. Gaya penampilan ini sudah bertahun-tahun sebab Beliau  memang tokoh agama panutan umat.

Namun akhir-akhir ini Kiai Ma'ruf tampil modern. Kata modern ini lebih pada gaya busana kekinian, sebab sejatinya banyak santri sudah sangat modern dengan kreativitasnya masing-masing.

Maksudnya, julukan kaum bersarung untuk warga nahdliyyin yang terkesan ndeso dulu, sudah tidak relevan lagi di era kekinian. Salah satunya terlihat dari Kiai Ma'ruf yang meski bersarung dan berkopyah tapi tampil elegan dan modern.

Misalnya Kiai Ma'ruf Amin kala menghadiri acara jalan pagi 'Interfaith Walk 2019 Pemuda Lintas Agama' di kawasan CFD Sudirman-Thamrin pada Minggu (17/11/2019) lalu tampil sporty dengan mengenakan kaos, celana panjang, sneakers, topi, serta jam tangan. Selain itu, saat sidak ke pangkalan TNI AU di Halim, Ma'ruf juga berpakaian sporty. Tanpa sarung dan berkopyah atau bersongkok. Penampilan sporty adalah kekinian.

Lalu Ada Apa Kiai Ma'ruf Tampil Kekinian, Tanpa Sarung dan Kopyah? Apakah Kiai Ma'ruf hendak mengimbangi gaya Presiden Jokowi? Ya, alasannya bisa macam-macam.
Namun Juru Bicara Wapres, Masduki Baidlowi, mengungkapkan alasan pemilihan gaya itu. Yakni lebih pada menyesuaikan dengan acaranya.

"Lebih pada konteks acaranya aja. Menyesuaikan gitu. Karena kemarin acaranya pemuda lintas agama, lalu kemudian tempatnya di CFD, di situ banyak kalangan anak muda milenial ya maka kemudian menyesuaikan aja begitu," kata Masduki kepada wartawan saat dihubungi  Selasa (19/11/2019) tadi malam.

Ketua Infokom MUI itu mengatakan, Kiai Ma'ruf selalu menyesuaikan penampilan dengan agenda yang dihadirinya. Saat bertemu anak muda, kata dia, Kiai Ma'ruf juga akan berupaya menampilkan semangat muda kepada hadirin.  "Itu semangat menyesuaikan dengan anak muda kalau memang kondisinya di situ banyak yang muda. Lebih pada penyesuaian kehadiran ke mana Wapres itu akan datang, maka di situ disesuaikan cara berpakaiannya," katanya.


Masduki juga mengatakan alasan mengapa Kiai Ma'ruf pada beberapa kesempatan tidak mengenakan sarung tapai memakai  celana. Menurut dia, Kiai Ma'ruf saat menerima tamu dari negara sahabat selalu mengenakan celana.

"Misalnya akhir-akhir ini karena sering menerima duta besar, terutama tamu asing ya pakai celana-lah. Biasanya ke MUI pakai sarung. Hari ini pakai celana tadi ada tamu dan ada wawancara dengan sejumlah media, kemudian siang menerima tamu (di kantor Wapres), maka ke MUI biasanya pakai sarung, maka pakai celana," katanya.

Selain itu, Masduki mengatakan, istri Wapres, Wury Estu Handayani, turut berperan dalam memoles penampilan Kiai Ma'ruf. Wury senantiasa memberikan saran kepada Kiai Ma'ruf dalam berpakaian.

"Saya kira istri Beliau selalu memberikan saran pakaian apa yang pas untuk Wapres hari ini. Ketika dipakai biasanya kemudian kalau cocok ya jalan, kalau nggak cocok biasanya 'Bah, itu kayaknya kurang style deh, pakai yang lain' gitu. Ada peran dan memberikan saran yang baiklah untuk kepantasan dan kesesuaiannya gitu," katanya.

Jadi, bila ada yang tanya, Ada Apa Kiai Ma'ruf Tampil Kekinian, Tanpa Sarung dan Kopyah? Alasannya bukan meninggalkan gaya santri dengan sarung dan kopyah, tapi untuk menyesuaikan kondisi acara yang Beliau kunjungi tersebut. (det/hud)