Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sutradara 'Sexy Killers' Ditangkap Gegara Cuitan Papua

Friday, September 27, 2019 | 08:51 WIB Last Updated 2019-09-27T03:35:57Z





JAKARTA (DutaJatim.com)   -  Inilah yang dikhawatirkan masyarakat sipil soal ruang kebebasan berpendapat yang semakin dipersempit oleh UU ITE. Kali ini giliran sutradara dan jurnalis Dandhy Dwi Laksono ditangkap polisi pada Kamis (26/9/2019) malam pukul 23.00 dengan dalih melanggar UU itu.

(Iklan Kuliner)

Istri Dandhy, Irna Gustiawati, saat dihubungi wartawan mengatakan, suaminya ditangkap di kediaman mereka di Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat. Irna menjelaskan penangkapan Dandhy Dwi Laksono disebabkan unggahan sutradara yang menggarap film "Sexy Killers" itu di media sosial.

Iklan kuliner

"(Polisi) membawa surat penangkapan karena alasan posting di media sosial Twitter mengenai Papua," kata Irna. Penangkapan dilakukan oleh aparat Polda Metro Jaya.  Pendiri WatchdoC yang  juga merupakan sutradara film dokumenter Sexy Killers ini diperiksa oleh penyidik tapi kemudian dibebaskan. Hanya saja dia tetap berstatut tersangka melanggar UU ITE soal menebar ujaran provokasi di media sosial.
Sebagaimana diketahui, Dandhy ditangkap pada hari Kamis (26/9) pukul 23.00 WIB di kediamannya. Dia tangkap lantaran cuitannya terkait Wamena dianggap mengandung ujaran kebencian. 

Dandhy disangkakan melanggar Pasal 28 ayat (2), jo Pasal 45 A ayat (2) UU No.8 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 14 dan Pasal 15 No.1 tahun 1946 tentang hukum pidana.

Mengutip detik.com, pengalamannya sebagai jurnalis membuat Dandhy sempat menulis buku berjudul Indonesia for Sale' dan 'Jurnalisme Investigasi'.

Selanjutnya bersama rekannya Andy Panca Kurniawan dia mendirikan Watchdog Indonesia. Ini  sebuah rumah produksi film-film dokumenter pada tahun 2009. Salah satunya film 'Sexy Killers' yang bikin heboh saat Pilpres 2019.

Selain itu terdapat 165 episode dokumenter lebih, 715 feature televisi, dan sedikitnya 45 karya video komersial non komersial yang pernah dihasilkan rumah produksi ini. Beberapa video dokumenternya yang terkenal adalah film Samin vs Semen dan Jakarta Unfair.

Film pertama berisi tentang sorotan masalah masyarakat Samin Kendeng yang berjuang melawan penggusuran oleh perusahaan semen, sedangkan film kedua berisi tentang sorotan masalah reklamasi di Jakarta.
Karena beberapa film dokumenter yang kerap menyoroti isu sosial itu, Dhandy pun akhirnya juga dikenal sebagai aktivis.

Pada tahun 2015, dia ikut melakukan perjalanan yang dinamai sebagai 'Ekspedisi Indonesia' hanya dengan menggunakan sepeda motor.

Pada September 2017 nama Dhandy mencuat karena tulisannya berjudul 'Suu Kyi dan Megawati' membuatnya dilaporkan Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) Jawa Timur, organisasi sayap PDI Perjuangan karena dianggap menghina Megawati Sukarnoputri.

Nama Dhandy kembali jadi perbincangan usai dia menelurkan film Sexy Killer. Film ini merupakan film dokumenter yang menyoroti tentang masalah dampak industri tambang di Indonesia. Film ini ramai diperbincangkan karena dirilis beberapa hari saja menjelang coblosan Pipres 17 April 2019. (hud/det/kcm)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update