Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Bulan Safar: Kenali Sejarah, Mitos, dan Peristiwa Bersejarahnya

Thursday, July 16, 2026 | 09:39 WIB Last Updated 2026-07-16T02:39:11Z

 Tradisi mandi di bulan Safar di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis.




Dalam sejarahnya, masyarakat Arab Jahiliyah menganggap Safar sebagai bulan kesialan. Hal tersebut tidak lepas dari keyakinan mereka bahwa Safar adalah salah satu jenis penyakit yang bersarang di dalam perut. Namun hal ini dibantah oleh Nabi SAW.


SURABAYA (DutaJatim.com) - Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menetapkan awal bulan Safar 1448 H jatuh pada Kamis, 16 Juli 2026 M. Penetapan tersebut didasarkan pada hasil rukyatul hilal yang menunjukkan hilal terlihat di sejumlah lokasi pemantauan di Indonesia. "Awal bulan Safar 1448 H bertepatan dengan Kamis Wage, 16 Juli 2026 M (mulai malam Kamis), atas dasar rukyah," demikian tertulis dalam Pengumuman Nomor 038/LF-PBNU/VII/2026 yang diterbitkan pada Rabu (15/7/2026). LF PBNU menjelaskan, rukyatul hilal dilaksanakan pada Rabu Pon, 29 Muharram 1448 H atau bertepatan dengan 15 Juli 2026 M di berbagai titik pemantauan. Dari hasil rukyat tersebut, beberapa lokasi melaporkan berhasil melihat hil

Mengutip penjelasan dari Ibnu Mandzur dalam Lisanul ‘Arab, kata Safar memiliki dua arti yaitu bisa berarti kosong (Shafar) atau dapat juga berarti warna kuning (Shufrah). Adapun sebab penamaan Safar berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang meninggalkan rumah atau kediaman mereka (sehingga kosong) untuk berperang atau bepergian jauh.

Pendapat tersebut diceritakan dalam al-Mufasshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam bahwa orang-orang yang ditinggal bepergian ini mengeluh sambil berkata, “Shafira an-Nasu minna shafaran (Orang-orang mengosongkon kota (meninggalkan) kita sebab kita miskin (kosong/tidak memiliki harta).” (Juz 6, h. 120)

Mitos Seputar Safar

Dalam sejarahnya, masyarakat Arab Jahiliyah menganggap Safar sebagai bulan kesialan. Hal tersebut tidak lepas dari keyakinan mereka bahwa Safar adalah salah satu jenis penyakit yang bersarang di dalam perut.

Tak hanya sampai di situ, mengutip penjelasan dalam buku Mengenal Nama Bulan dan Kalender Hijriah, masyarakat Arab Jahiliyah meyakini Safar sebagai bulan yang penuh kejelekan. Sebagian masyarakat berpendapat, Safar adalah jenis angin berawak panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit.

Keyakinan terhadap hal-hal tersebut dibantahkan manakala Islam datang. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا غُولَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: "dari Jabir Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya." (HR Muslim, no 4120)

Dalam hadits lain disebutkan pula:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأَنَّهَا الظِّبَاءُ فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الْأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا فَقَالَ فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (reinkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan)." Lalu seorang Arab Badui berkata, "Wahai Rasulullah, lalu bagimana dengan unta yang ada dipasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?" Maka Nabi ﷺ bersabda, "Siapakah yang menulari yang pertama." (HR Bukhari, no 5278)

Setelah mengetahui sejarah Safar dan mitos yang ada di dalamnya, tentu umat Islam perlu menjadikan hal ini sebagai pedoman. Sebab, tidak ada yang namanya bulan kesialan. Jangan sampai pemahaman mitos yang dibawa oleh segelintir orang dikonsumsi bulat-bulat tanpa adanya upaya memvalidasi mitos yang ada.

Semua waktu yang diciptakan Allah Ta’ala adalah kesempatan yang baik. Oleh karenanya, tidak ada waktu sial dan mitos ini telah dibantah dengan kedatangan Islam itu sendiri.

Peristiwa Sejarah 

Di bulan kedua dalam tahun Qamariah ini, setidaknya terdapat enam (6) peristiwa penting dalam sejarah Islam. Ustadz Amien Nurhakim menguraikan hal tersebut dalam artikelnya di NU Online yang berjudul Peristiwa-peristiwa Penting di Bulan Safar. Ia mengutip dari kitab Mandzumah Syarh al-Atsar fî mâ Warada ‘an Syahri Safar (hal 9) yang ditulis Habib Abu Bakar al-‘Adni. 

1. Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah 

Peristiwa pertama dalam bulan Safar adalah pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah al-Kubra. Pernikahan itu berlangsung sebelum datang wahyu dari Allah kepada Rasulullah (sebelum masa kenabian).

2. Rasulullah menikahkan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib 

Selain dirinya, Rasulullah saw juga menikahkan putrinya, yaitu Sayyidah Fatimah az-Zahra (Siti Fatimah) dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib di bulan Safar dengan penuh kegembiraan.

3. Hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah

Rasulullah saw juga memulai hijrahnya dari Kota suci Makkah ke Kota Madinah pada akhir bulan Safar di goa al-Hajar sebagaimana para ulama sebutkan.

4. Perang pertama dalam Islam, yaitu perang Abwa 

Peristiwa lain yang terjadi di bulan Safar adalah Perang Abwa. Perang pertama dalam Islam ini terjadi pada permulaan bulan Safar.

5. Penaklukan Khaibar pada tahun ke-7 Hijriah 

6. Rasulullah mengutus Usamah bin Zaid kepada pimpinan prajurit Rum tahun 11 Hijriah 

Demikian itu terjadi beberapa hari pra-wafatnya Rasulullah. Dua peristiwa terakhir ini, menurut Ustadz Amien, tidak disebutkan oleh Habib Abu Bakar al-‘Adni dalam kitabnya, Mandzumah Syarh al-Atsar fî mâ Warada ‘an Syahri Safar. (jok) 

No comments:

Post a Comment

Bisnis

Bisnis
×
Berita Terbaru Update