-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Imbauan MUI Jatim soal "Salam Semua Agama" Disambut Pro-Kontra

Senin, 11 November 2019 | 14.09 WIB Last Updated 2019-11-11T07:09:32Z
KH Abdusshomad Buchori.

SURABAYA (DutaJatim.com) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menyampaikan imbauan agar para pejabat tak lagi memakai salam pembuka untuk semua agama saat melakukan sambutan resmi di sebuah acara. Imbauan itu terdapat pada surat bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang ditandatangani oleh Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori.

Imbauan MUI Jatim soal "Salam Semua Agama" Disambut Pro-Kontra. 

Misalnya Walikota Malang Sutiaji menilai bahwa hal itu dikembalikan kepada pribadi masing-masing pejabat. Apalagi ini sifatnya imbauan.

"Namanya imbauan ya kembali kepada pribadi masing-masing," kata Sutiaji saat dihubungi  Senin (11/11/2019).

Menurut Sutiaji, ucapan selamat pagi dan salam sejahtera adalah milik semuanya. Kalimat itu bisa disampaikan ketika memulai  berpidato atau memberikan sambutan.

"Bagi non muslim diharapkan tidak menyampaikan Assalamualaikum. Jika ada yang sampaikan sama, maka yang lain (non muslim) jangan menjawab. Lebih tepat untuk memakai selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, atau salam sejahtera. Karena itu milik semua," kata Sutiaji.

Sutiaji mengatakan  hal ini pernah disampaikan oleh Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Saat dikonfirmasi, Kiai Somad, sapaan akrabnya, membenarkan surat imbauan MUI Jatim itu. Dia menjelaskan surat MUI Jatim itu salah satu hasil Rakernas MUI di Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu.  Kiai Somad, menjelaskan, dalam Islam, salam termasuk doa.  Artinya doa sama dengan ibadah. Untuk itu, tak baik jika mencampuradukkan ibadah agama satu dengan agama yang lain. 


"Misalnya Assalamualaikum itu doa. Salam itu termasuk doa dan ibadah," kata Kiai Somad  di Surabaya, Minggu (10/11/2019).

Membuka sambutan atau pidato di acara-acara resmi sering kali menyampaikan salam atau kalimat pembuka dari semua agama. Tujuannya untuk meningkatkan kerukunan hidup antar umat beragama guna memperkokoh kesatuan bangsa dan keutuhan NKRI. Namun mengingat salam mempunyai keterkaitan dengan ajaran yang bersifat ibadah, maka Dewan Pimpinan MUI Provinsi Jawa Timur merujuk pada rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI 11-13 Oktober 2019 di Nusa Tenggara Barat, perlu menyampaikan taushiyah dan pokok-pokok pikiran sebagai berikut:


1. Bahwa agama adalah sistem keyakinan yang didalamnya mengandung ajaran yang berkaitan dengan masalah aqidah dan sistem peribadatan yang bersifat eksklusif bagi pemeluknya, sehingga meniscayakan adanya perbedaan-perebedaan antara agama satu dengan agama yang lain.

2. Dalam kehidupan bersama di suatu masyarakat majemuk, lebih-lebih Indonesia yang mempunyai semboyan Bhinneka tunggal ika, adanya perbedaan-perbedaan menuntut adanya toleransi dalam menyikapi perbedaan.

3. Dalam mengimplementasikan toleransi antar umat beragama, perlu ada kriteria dan batasannya agar tidak merusak kemurnian ajaran agama. Prinsip tolerasi pada dasarnya bukan menggabungkan, menyeragamkan atau menyamakan yang berbeda, tetapi toleransi adalah kesiapan menerima adanya perbedaan dengan cara bersedia untuk hidup bersama di masyarakat dengan prinsip menghormati masing-masing fihak yang berbeda.

4. Islam pada dasarnya sangat menjunjung tinggi prinsip toleransi, yang antara lain diwujudkan dalam ajaran tidak ada paksaan dalam agama (QS. al-Baqarah [2]: 256); prinsip tidak mencampur aduk ajaran agama dalam konsep "Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku sendiri" (QS. al-Kafirun [109]: 6), prinsip kebolehan berinteraksi dan berbuat baik dalam lingkup muamalah (QS. al-Mumtahanah [60]: 8), dan prinsip berlaku adil kepada siapap un (QS. al-Ma'idah [8]: 8)

5. Jika dicermati, salam adalah ungkapan do'a yang merujuk pada keyakinan dari agama tertentu. Sebagai contoh, salam umat Islam, "Assalaamu'alaikum" yang artinya "semoga Allah mencurahkan keselamatan kepada kalian". Ungkapan ini adalah doa yang ditujukan kepada Allah Swt, Tuhan yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia. 

Salam umat Budha, "Namo buddaya artinya terpujilah Sang Budha, satu ungkapan yang tidak terpisahkan dengan keyakinan umat Budha tentang Sidarta Gautama. 

Ungkapan pembuka dari agama Hindu, "Om swasti astu" Om, adalah panggilan umat Hindu khususnya di Bali kepada Tuhan yang mereka yakini yaitu "Sang Yang Widhi". 

"Om" adalah seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan yang tidak lain dalam keyakinan Hindu adalah Sang Yang Widhi tersebut. Lalu kata swasti, dari kata su yang artinya baik, dan asti artinya bahagia. Sedangkan Astu artinya semoga. Dengan demikian ungkapan Om swasti astu kurang lebih artinya, "semoga Sang Yang Widhi mencurahkan
kebaikan dan kebahagiaan".

6. Bahwa doa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah. Bahkan di dalam Islam doa adalah inti dari ibadah. Pengucapan salam pembuka menurut Islam bukan sekedar basa basi tetapi do'a.

7. Mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bid'ah yang tidak pernah ada di masa yang lalu, minimal mengandung nilai syubhat yang patut dihindari.

8. Dewan Pimpinan MUI Provinsi Jawa Timur menyerukan kepada umat Islam khususnya dan kepada pemangku kebijakan agar dalam persoalan salam pembuka dilakukan sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Untuk umat Islam cukup mengucapkan kalimat, "Assalaamu'alaikum. Wr. Wb." Dengan demikian bagi umat Islam akan dapat terhindar dari perbuatan syubhat yang dapat merusak kemurnian dari agama yang dianutnya. 

Imbauan MUI Jatim soal "Salam Semua Agama" Disambut Pro-Kontra. Namun lagi-lagi dikembalikan kepada masing-masing pejabat. "Tujuannya baik, sebaiknya tidak dipersoalkan," kata seorang pejabat Senin siang ini. (nas/det)
×
Berita Terbaru Update